Wartawan Senior

Kamis, 28 Januari 2021 | 10:46 am | 104 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                     

 

Hari ulang tahun Ronodipuro adalah 30 September, dan ini sangat merisaukannya. “Selama berpuluh tahun kekuasaan Orde Baru, hari ulang saya selalu diperingati dengan bendera setengah tiang,” selorohnya. Dia kemudian mengangsurkan buku Biografi Oemardhani. Dibukanya halaman pertama. Tangannya menunjuk sebuah kalimat, “For my Boss!” terparaf nama Oemardhani. Ya, Oemardhani adalah salah satu anak buah Ronodipura, ketika Oemardani belum memasuki karir militer di Angkatan Udara Republik Indonesia. Hubungan mereka terus berlanjut bahkan setelah Oemardhani ditahan karena peristiwa 30 September 1965.

”Sejak tahun 1995 saya tidak mau lagi hadir pada peringatan 17 Agustus di istana!” kata Ronodipura. Ini agak aneh karena Ronodipuro bersama Bachtar Lubis adalah orang pertama yang membacakan isi teks Proklamasi 17 Agustus 1945 lewat radio. Siaran inilah yang banyak didengar orang Indonesia dan dunia. Suara Bung Karno yang jadi dokumen audio satu-satunya untuk proklamasi adalah hasil rekaman Ronodipuro. Dia merekamnya di awal tahun 1951. Baginya, apa yang dia sumbangkan pada masyarakat melalui berbagai posisi tugasnya di birokrasi Orde Baru sudah cukup. dia pensiun 31 Mei 1976 setelah menempati berbagai pos di Departemen Luar Negeri dan Departemen Penerangan.

Pensiun tak berarti dia berdiam diri di rumah. Sampai kini Ronodipuro adalah penasehat di beberapa organisasi sosial nirlaba macam LP3ES, Yayasan Lembaga Indonesia Amerika, dan Dewan Harian Nasional Angkatan ’45. Sebuah buku saku bersampul hitam selalu dikeluarkannya bilamana ada orang meminta waktunya untuk bertemu.

Tapi Ronodipuro merasa tak pernah kekurangan waktu untuk sekali dalam seminggu menemani lima orang cucu persembahan dari tiga anaknya. Ronodipuro juga tak pernah melewatkan waktu menjelang tengah malam sampai pukul satu dini hari untuk menikmati cerutu Romeo and Julliet atau Davidoff berbandrol Havana Kuba di ruang tengahnya. Dia memutar musik klasik sambil menelusuri lukisan Basuki Abdullah, Soedjojono, Affandi yang tergantung di dinding rumahnya. Suara bising lalu lintas di Jalan Talang Betutu, depan rumahnya di Jakarta telah mengendap di embun malam. Pendiri RRI tersebut sebentar lagi beristirahat, dan Siti Fatma Rassat istri tercinta masih setia menunggunya di kamar.

BENDERA setengah tiang setiap 30 September menyimpan ingatan pahit bagi seorang Karim DP. Paling tidak, berawal dari hari tersebut maka seluruh kenyataan sejarah menjadi sungsang. Karim adalah ketua Persatuan Wartawan Indonesia periode 1963-1965 –sebuah organisasi yang dianggap dekat dengan pemerintahan Presiden Soekarno. Gara-gara jabatan itu, sejak Kamis 30 September 1965, Karim kehilangan segalanya. Segala harta milik pribadi, namun terutama kebebasan telah dirampas tanpa pengadilan.

Karim DP meringkuk di penjara Salemba, Jakarta, selama 14 tahun tanpa proses peradilan. Dia menghayati semua itu dengan pikiran sejernih mungkin. Sehingga istilah putus asa menjadi terlalu murah untuk dibayar dengan apa yang dilakukannya selama itu. Sebagai jurnalis, dia mengembangkan profesionalismenya secara optimal. Cuma politik rasanya seperti cuaca, yang tak pasti ditebak sampai kapan bersahabat dan kapan datang, tak ampun membabat.

 

Related Post