Oleh : Waluya Jati
 
 

PEREMPUAN kecil, ramah, dan sederhana ini tangannya kurus dan keriput. Usianya 89 tahun. Perempuan ini penuh semangat, suka bercanda, dan kelihatannya enteng dalam menjalani hidup.

Namanya Soerastri Karma Trimurti tapi orang biasa mengenalnya sebagai S.K. Trimurti –sebuah nama dalam sejarah Indonesia modern. Nama Karma dan Trimurti adalah nama samaran yang dipakainya secara berganti-ganti untuk menghindari delik pers pemerintah kolonial Belanda. Berkali-kali dia keluar masuk penjara senjak 1936 sampai 1943. Anak keduanya bahkan dilahirkannya ketika dia berada dalam penjara pada 1942.

Mei 2000 Trimurti sempat dirawat di rumah sakit. Gara-gara terjatuh ketika hendak duduk. Tapi sekarang Trimurti sudah bisa lagi cium lutut lagi. “Saya berlatih yoga sejak muda,” katanya, sembari memamerkan bagaimana dengan mudanya dia melakukan cium lutut.

Kini Trimurti masih wira-wiri ke sana ke mari, ikut rapat Petisi 50 setiap Selasa, atau hadir bicara di seminar-seminar. Trimurti sehat walafiat. Tak ada sakit serius, kecuali mata sebelah kanan yang merosot penglihatannya karena usia. Hingga kadang ketika dia berjalan pagi di sekitar rumah, tetangganya sering melontarkan senyum yang tak berbalas olehnya. Bukan karena sombong, tapi memang nggak lihat, “Wong saya baca saja pake kaca pembesar!” ujarnya, terkekeh.

Dulu Trimurti dikenal karena majalah Pesat, Bedug, dan Genderang. Semuanya sudah tak terbit. Trimurti kini menghabiskan hari tuanya di sebuah rumah sederhana di Jalan Kramat Lontar H-7 di daerah Kramat, Jakarta. Bajaj berseliweran di depan rumah, suara gaduh mereka tumpang tindih dengan suara orang lewat, anak kecil yang menangis, atau teriakan ibu-ibu yang memanggil tukang siomai.

Sebagian kamar rumahnya disewakan untuk indekost para karyawati. Di ruang tamunya tergantung lukisan Semar, seorang tokoh pewayangan setengah dewa dan setengah manusia, separuh laki-laki dan separuh perempuan. Tokoh wayang yang dikeramatkan oleh sebagian orang Jawa.

Timurti lahir dan dewasa di lingkungan Jawa. Sebagai perempuan Jawa sikapnya terhadap hak perempuan sangat tegas dengan bingkai sopan santun kejawen. Dia hormat pada Sayuti Melik, mantan suaminya yang dikenal orang karena mengetik naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sayuti Melik menikah dengan Trimurti pada 1938 tapi bercerai pada 1969 karena Melik menikah lagi.

Di ruang tengah rumahnya, ada gambar ukuran 100×60 cm di mana diperlihatkan Trimurti bersalaman dengan Presiden Soekarno saat menerima Bintang Mahaputra Tingkat V. “Saya sedang dijothak (didiamkan) Bung Karno waktu itu, karena memprotes poligami!” Trimurti tersenyum menerawang, mengingat-ingat Soekarno yang kharismatik tapi punya istri banyak.

Trimurti mengatakan dia sangat loyal kepada Soekarno, sang guru politik sekaligus orang yang memaksanya untuk pertama kali menulis di majalah Fikiran Rakyat. Soekarnolah yang membuatnya kecemplung di dunia jurnalistik, setelah sebelumnya Trimurti jadi guru di sekolah dasar khusus puteri di Surakarta dan Banyumas, serta perguruan rakyat di Bandung.

PADA waktu hampir bersamaan, juga ada seorang guru asal Blitar, yang banting jalan hidup ke dunia jurnalisme. Dia adalah Soebagijo Ilham Notodidjojo atau Soebagijo I.N. yang mungkin lebih dikenal karena bukunya Jagat Wartawan Indonesia.

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares