Ketipu Narasumber Palsu, Kantor Suara Kaltim Didatangi “Preman Kaltim”

Monday, 5 March 2018 | 9:05 am | 625 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       

Ini cerita di balik berita.  Sebagai wartawan saya pernah ketipu.  Ceritanya begini ;

 

Samarinda, 1999

Kriiing … telepon di kantor  Surat Kabar Harian (SKH) Suara Kaltim berdering.  Saya mengangkat telepon.   Setelah mengucapkan salam, suara di telpon mengatakan dirinya ingin menginformasikan tentang kegiatan partainya setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah.

‘’Ke kantor saja pak,’’  suara saya.

‘’Maaf saya lagi jauh. Di luar kota. Bisa lewat telepon saja pak,’’ katanya.

Karena saya menganggap  apa yang ingin diberitakannya hanya berita biasa saja. Maka saya mengiyakan saja.

“Bapak siapa?”

“Saya Ketua Parpol PUDI Kaltim, yang juga merangkap Ketua PUDI Samarinda, Pak Jamian (Jamian Alie Bethan)”

‘’Intinya pak, kami dari partai PUDI Kaltim (Partai Uni Demokrat Indonesia, yang saat itu Ketua DPP nya Sri Bintang Pamungkas. Bersama dengan  47 parpol lainnya, PUDI menjadi peserta Pemilu 1999) menggunakan dana bantuan parpol itu untuk peternakan, ‘’  katanya.

‘’Ternak apa pak?’’ kata saya.

“Ternak kambing pak’’ jawabnya.

“Semua dana bantuan itu untuk ternak kambing?’’ saya heran.

“Iya pak’’.

“Tidak dimanfaatkan untuk kepentingan parpol?”

“Tidak pak”.

“Lokasinya peternakannya di mana?”

“Tanah merah pak’’.

Setelah bertanya berapa jumlah bantuan, kambingnya beli di mana dan lain sebagainya, saya mengakhiri wawancara singkat itu

 

 

***

Keesokan harinya.

Saya asyik duduk-duduk , makan singkong di sebuah warung jalan Danau Toba,  ketika telepon “nokia pisang”  (nokia bahari yang bentuknya melengkung dan panjang, tapi bukan seperti pisang)  saya berdering.

“Waduh  gawat, saya disuruh segera ke kantor. Ada yang ngamuk-ngamuk. Soal berita. Kantor mau dihancurkan.  Katanya dari  preman Kaltim ’’ kata saya kepada teman yang bersama saya. Dia kaget dan menghentikan minum es kacang merah.

“Ayo  ke sana,’’ kata saya bergegas,

Tiba di kantor,  para wartawan membuat berita di lantai 2. Di lantai bawah sepi, karena staf iklan, pemasaran dan sekretaris redaksi kalau hari minggu libur.  Saya lihat ada 2 orang di lantai bawah. 

‘’Bila tidak ada yang turun, kantor ini akan kami hancurkan!’’ teriak salah seorang yang berbadan gempal dan hitam, menyambut kedatangan saya.  Ada tato di lengannya.

Teman saya berbisik pamit pergi, katanya mau manggil teman-temannya.

Saya mendekati yang satunya, yang potongan tidak seperti preman. Saya tidak kenal.  Saya menjabat tangannya, sambil menyebut namanya ; “ Jamian Ali Bethan’’.

‘’Ada apa pak?” tanya saya.

“Saya keberatan. Tidak terima. Saya mau menemui wartawan yang menulis  berita yang berjudul  PUDI  gunakan bantuan parpol beternak kambing’’.

Lho? Saya kaget. “Bapak tidak pernah menelpon ke Suara Kaltim?”.

‘’Saya tidak pernah ngomong seperti yang diberitakan itu! Ternak kambing apa an! “ Orang yang bernama Jamian Ali Bethan itu nampak marah-marah.  Dia mengancam, akan memanggil teman-teman yang lain, bila tidak dipertemukan dengan wartawan yang menulis berita.

Situasi tegang.  yang berbadan gempal dan hitam (saya tidak tahu namanya), yang mengaku “preman kaltim” mendekat. Dipinggangnya, sepertinya ada badiknya.

Saya menjelaskan,  silahkan sampaikan hak jawab atau bantahan, bahwa tidak benar seperti itu. 

Sebelum dia bicara, saya merangkul pundaknya, dan mengajaknya menjauh dari temannya.

Saya juga membisiki,  tak perlu ribut-ribut.  Saya juga bilang sabar. Bila dia mau menyelesaikan cara yang lain, jangan bawa teman. Cukup berdua.

Dia mulai tenang. Saya menyuruh dia menjelaskan, sebenarnya untuk apa dana bantuan parpol itu.

Saya juga mengakui ada kekeliruan penulisan berita dan mengucapkan terima kasih karena kesediaan dia mau mengklarfikasi. Saya juga menyebutkan ada pihak, yang sengaja mengadu domba. Saya menyebutkan, pihak lawan yang melakukan itu. 

Saat itu, PUDI di Samarinda, ada dua kepengurusan. Jamian Ali Bethan, yang saling mengklaim kepengurusan sah.  Sah dan diakui ini penting, karena untuk pengurusan yang berhak mengambil atau mendapatkan bantuan untuk PUDI Samarinda.

Semenjak saat itu,  saya berhati-hati melakukan wawancara melalui telepon.  “Wartawan Telepon” ini termasuk “wartawan malas”,  yang enggan menemui sumber berita, dan melakukan wawancara hanya melalui telepon kantor. 

Hingga sekarang saya belum secara pasti mengetahui, siapa sumber berita palsu yang mengaku-ngaku sebagai Jamian Alie Bethan tersebut. 

Saya menduga-duga, “Jamian Ali Brthan palsu” itu adalah Suriansyah, lelaki setengah baya yang “nyentrik” dan selalu mencalonkan diri, mulai  mendaftar sebagai direktur PDAM, calon Presiden RI, dengan partainya seperti ditulis di kartu nama, Partai Masuk Sorga, yang misi partainya mengajak anggotanya untuk masuk sorga.  kSuriansyah juga saat itu termasuk salah satu  pengurus PUDI Samarinda.  Pernah saya konfirmasi kepadanya, dia hanya senyum-senyum saja. Saya yakin dia pasti tidak mengakuinya.

 

Akhmad zailani

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares