Header Image

Pilkada dan Piala Dunia 

Pilkada dan Piala Dunia 

BILA  ditanya, yang mana lebih penting dan disuka. Di kondisi bangsa Indonesia yang masih mengalami krisis kepercayaan (untung tidak salah ketik, keperawanan)  saat ini (jangan tanya berapa persen, itu tugas lembaga survei), tentu saja bermacam jawaban orang

Bagi politisi, panitia atau penyelenggaran hajatan demokrasi yang gak  ingin dianggap gagal dan pihak-pihak yang berkepentingan, maka Pilkada yang sangat penting. Lalu bla bla muncul “penjelasan kebangsaan” yang rada serius. Tidak ada apapun yang didapatkan dari sepakbola selain memelihara kebodohan yang berlebihan, mengejar dan berebut satu bola untuk dimasukkan ke gawang.

Tapi bila kita tanya,  kepada yang gak suka politik, yang masih merasa  sakit hati dan mengalami krisis kepercayaan, walaupun sekian persen yang penting ada, maka jawabannya lebih baik nonton piala dunia FIFA. Politik itu membosankan. Penuh kepalsuan. Rakyat digiring-giring hanya pada moment tertentu lantas dilupakan. Sepakbola itu lebih dari politik. Sepakbola adalah peperangan. Di piala dunia saat yang tepat untuk mempermalukan  Amerika Serikat sebagai negara super power untuk bisa dikalahkan, dipermalukan.

Tapi bila politisi di Indonesia yang suka nonton sepak bola gimana ?

Maka akan terbawa-bawa ke dukung mendukung. Kok bisa? Ya bisa saja lah proses dukung mendukung Pilpres 2019 misalnya masuk ke piala dunia saat ini. Saat ini kan Jerman juara bertahan, setelah juara tahun 2014 lalu. Nah, para pendukung Jokowi  (#tetappresiden)  mengalihkan dukungan ke Jerman. Jerman harus mempertahankan juara piala dunia untuk yang kedua kalianya. Lalu, bagi politisi yang berseberangan, yang juga suka bola dan gak  suka tim kesebelasan Jerman, akan mencari jago lain.  Seperti emacam #sgantipresiden 2019.  Maka siapapun juara piala dunia, asal jangan Jerman. Siapapun presiden RI 2019 asal jangan Jokowi.

Tapi tidak semua orang terseret politik yang campur sepakbola itu. 

 

ilustrasi mince cartoon

 

Seperti nonton sepak bola piala dunia, akan lebih seru jika kita juga punya jago di pilkada yang akan didukung. Gak seru dong bila gak ada yang didukung.  Sepi sorak sorai.

Pilkada seperti sepakbola adalah kompetisi. Mencari yang terbaik. Ada yang menang ada kalah. Namun belajar lah kita untuk lebih dewasa seperti saat  menonton sepakbola. Kita boleh mengutuk habis-habisan. Menjelek-jelekkan sejelek-jeleknya pemain lawan. Atau agar puas dan ada alasan (membuang malu)  paling gak  pilihlah menyalahkan wasit ,sebagai alasan, bila enggan menyalahkan pemain tim sendiri. Tapi tolong dihindari konflik sesama teman. jauhi menghardik apalagi menendang  pantat teman yang sama-sama nonton, bila ada pemain yang melakukan kecurangan misalnya.

Kita boleh sebagai komentar, yang merasa lebih hebat dari pemain bola, tapi gak usah berantem sesama komentator.

Dan ingat. Seperti dalam semua olah raga, sportivitas dijunjung. Bermaina lah yang cantik. Dukung jago masing-masing dengan wajar. Jangan berkelahi sesama suporter. Apalagi sampai tawuran.  Dan, yang diingat dalam setiap kompetesi ada yang kalah ada yang menang.

Setelah kompetisi berakhir, maka berakhir pula lah persaingan. Sesama pemain saling bersalaman.  kalo perlu tuker-tukeran baju. Asal jangan tuker-tukeran celana dalam.

Suporter yang duduk bersebelahan nonton televisi juga harusnya begitu. Selama pertandingan,  boleh berteriak-teriak memberi semangat tim kesebelasan yang dibela. Boleh ikut sujud syukur mencium ambal di rumah, lebih dari itu juga tidak diharapkan, mencium ambal seperti mencium pacar atau istri dengan mesra bila tim yang dijagokan memasukan bola ke gawang. tapi jangan keluar ke rumah mencium istri tetangga saking girangnya. Karena bisa digebuki warga. Boleh berteriak-teriak sambil melepas dan melempar baju hingga celana dalam ke luar rumah., bila tim kesebelasan menang. Tapi ingat, jangan menganggu suporter lawan apalagi tetangga yang sedang nonton film India dan tidak suka sepakbola.

 Ada lah sesuatu yang kurang cerdas, bila suporter setelah hasil  kalah menang diketahui,   berkelahi sampai kalah menang pula. Di dalam satu rumah bermusuhan berhari-hari. Ini yang dijauhi. Padahal  permainan sudah berakhir.

Anggaplah  saja, pilkada ini seperti sepakbola, sebagai hiburan ditanggal tua dan berbahagia kembali di tanggal muda. (email akhmadzailani@suarakaltim.com).

Leave a Reply

shares