Mempertaruhkan Kewarasan

Tuesday, 15 October 2019 | 5:28 am | 70 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
Oleh: Yudhi Hertanto
*/Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid
 
Is it just me, or is it getting crazier out there?” – Arthur Fleck (Joker)

SEJARAH kegilaan adalah tentang dominasi kekuasaan. Begitu hasil penelitian Foucault pada buku Kegilaan dan Peradaban.

Celakanya penderita gangguan kejiwaan kerap menjadi kambing hitam, dari situasi yang bisa jadi tidak dipahaminya. Termasuk di ranah sosial politik, kegilaan tidak kunjung mereda.

Sesuai Foucault, gila dan kegilaan adalah kata yang dipersandingkan sesuai konstruksi masyarakat. Bahwa dari setiap lintasan sejarah, terdapat persepsi publik atas mereka yang berbeda dari normalitas.

Dengan begitu ada interaksi antara aspek individu pada lingkup sosial yang terkait. Relasi dan bentuk interaksi tersebut bersifat dinamis serta saling mempengaruhi.

Pada abad pertengahan, kegilaan mulai dihadapkan dengan rasionalitas dan moralitas. Menghadirkan bentuk paling konkret melalui pemenjaraan fisik. Pasung dan rumah sakit jiwa adalah format merepresi fisik dan psikis.

Secara bertingkat, kegilaan dapat dipandang sebagai problem medik, bahkan juga dipercaya merupakan kutukan dan perbuatan mistik. Peradabanlah yang membentuk relasi sebab-akibat kegilaan.

Maka pertanyaan Joker diatas, menjadi penting. Sebagian diantara kita mungkin menganggap bahwa membahas pertanyaan penyandang gangguan jiwa adalah sebuah kegilaan baru? Setidaknya kita dapat merefleksikan diri pada irasionalitas tersebut.

Kesehatan Jiwa Bangsa

Bulan ini, khususnya tanggal 10 Oktober adalah hari kesehatan jiwa sedunia. Bukan tanpa sebab, kejadian stres dan depresi pada manusia modern mengalami peningkatan. Pada bagian puncak, kegilaan individu adalah wujud ekspresi gangguan kejiwaan sosial.

Ketidakmampuan untuk melihat relasi dialektik hal tersebut dalam kajian psikososial, seolah menempatkan individu yang terlepas dari pengaruh faktor lingkungan sosial di sekitarnya. Secara sederhana, jatuhnya kewarasan individu bukan tidak mungkin dapat disebabkan karena interaksinya dengan lingkungan yang buruk.

Di ranah sosial politik pada hari-hari belakangan ini, tidak lepas dari lunturnya normalitas. Situasi polarisasi ditingkat publik semakin menjadi. Apa yang nampak berbeda beramai-ramai di bully. Mekanisme cyber bullying terjadi. Beberapa waktu terakhir, istilah buzzer mulai menjadi topik pembahasan.

Bisa jadi, nuansa psikologi sosial kita memang tengah mengalami kesakitan. Bila kemudian komunitas adalah kumpulan persona individu. Pada aspek mikro terdapat masalah pada sisi personalitas, yang secara timbal balik di level makro terakumulasi di persoalan kolektivitas.

Kepribadian kita terganggu. Meliputi keseluruhan organik permasalahan akal, jiwa dan raga. Pada buku Alex Sobur, Psikologi Umum, 2016, kepribadian yang sehat ditopang oleh kedewasaan jasmani, intelektual, emosional dan sosial. Butuh kematangan, bagi timbulnya kepribadian yang sehat.

Merujuk Allport dalam Sobur, kematangan kepribadian akan terlihat melalui kriteria; (i) self objectification -memahami diri sendiri, (ii) self acceptance -mampu mengelola emosi, (iii) warm relatedness to other -dapat menjalin relasi dengan orang lain, (iv) extension of the self -dapat melihat sesuatu di luar dirinya dan (v) realistic perception of reality -persepsi yang akurat berorientasi pada persoalan bukan atas ego diri sendiri.

Indikator tersebut, kerap hilang dalam situasi polarisasi sosial politik kita. Bahkan seolah terus dipelihara untuk berbagai kepentingan. Ketidakwarasan mengancam kehidupan kita semua.

Perbaikan Perilaku

Pendekatan behavioral yang menempatkan kajian perilaku sebagai pusat observasi, membuat kita melihat ke dalam tubuh kehidupan sosial dalam konteks stimulus dan respons. Ruang lingkup kehidupan ada di dalam aksi-reaksi.

Relasi rangsangan dan tanggapan yang negatif, menghasilkan ekosistem yang buruk secara berkelanjutan. Tentu saja karena kehidupan sosial adalah sebuah bentuk dari interaksi yang berkelanjutan.

Sekurangnya ada dua teori yang menyertai, pada buku Poppy Ruliana & Puji Lestari, Teori Komunikasi, 2019, yakni pertama: social learning yakni pembelajar sosial dikemukakan Albert Bandura, tentang perilaku meniru. Melalui proses meng-imitasi kehidupan sosial, seorang individu memiliki kecenderungan perilaku sebagai hasil dari proses belajar.

Dibagian selanjutnya, teori kedua: social exchange sebagai bentuk pertukaran sosial yang ditokohi oleh John Thibaut dan Harold Kelley. Bahwa perilaku dan lingkungan akan bersifat resiprokal mempengaruhi.

Dimana individu akan menilai unsur imbalan dan keuntungan yang diperoleh dari suatu tindakan tertentu. Jika reward lebih besar dari cost, maka perilaku itu tertanam kuat.

Dengan begitu, ketika awan pekat menyelimuti hampir seluruh dimensi sosial kita, maka seluruh entitas yang ada di dalamnya akan terkontaminasi, menyerap racun residu. Tersebutlah kepentingan politik yang kini membelah kewarasan kita.

Membenahi yang Tersisa

Bagaimana mensintesis pertanyaan Joker diawal? Tentu saja, orang jahat bisa jadi muncul karena orang baik ada dalam lingkungan yang buruk. Menjadi sebuah tanggungjawab bersama. Saling tuding adalah bentuk perilaku yang mengukuhkan keburukan tersebut. Semua pihak berandil kesalahan.

Bila bangsa ini hendak merawat dan menumbuhkan kewarasan, maka perlu segera berbenah. Menghadirkan kehidupan dalam situasi percakapan dialogis yang hangat penuh perlindungan. Berbeda adalah biasa. Sesungguhnya ada nilai dan moral sosial yang bisa menjadi pagar perilaku.

Kita akan mulai lagi mempelajari hal-hal dasar dalam pembentukan kepribadian. Jelas tidak mudah. Perlu ada role model yang dapat dijadikan panutan. Petinggi negeri harus bisa menempatkan dirinya sebagai representasi yang diamati, bahkan bisa jadi diduplikasi oleh publik. Perlu kemawasan akan hal itu.

Peran aktif publik untuk melakukan seleksi perilaku juga penting. Memiliki kesadaran untuk memilih dan memilah berdasarkan nilai dan norma sosial penting untuk bisa menyaring perilaku baik dari pengotornya. Di era network society, perlu kecerdasan akal budi.

 

Tengok timeline sosial media kita, lihat pula tampilan para pesohor di ruang media mainstream. Kita penuh segera membuat perubahan. Joker tentu tidak perlu bertanya sebagaimana kalimat pembuka, terlebih bila proses Revolusi Mental telah tuntas dilakukan. Semoga saja. Salam waras, sing waras ngalah.


EDITOR: ANGGA ULUNG TRANGGANA/rmol

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares