Ingin Makan Daging, Kakak Adik Warga Miskin di Lampung Makan Bangkai Kucing

Sabtu, 21 September 2019 | 7:38 pm | 744 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                     

Hidup miskin, dua kakak beradik yakni Wagimin (35) dan Suyatno (30), warga Jalan Jeruk, Kelurahan Kelapa Tujuh, Kotabumi Selatan, Lampung Utara, sempat memakan daging kucing yang mati tertabrak mobil di jalanan. [Sinarlampung]
 

“Iya, Pak. Saya dan adik saya memang makan kucing mati. Waktu itu karena kepengin saja makan daging. Saya lihat kucing mati di pinggir jalan.”

 

LAMPUNG UTARA, SUARAKALTIM.COMHidup miskin, dua kakak beradik yakni Wagimin (35) dan Suyatno (30), warga Jalan Jeruk, Kelurahan Kelapa Tujuh, Kotabumi Selatan, Lampung Utara, sempat memakan daging kucing yang mati tertabrak mobil di jalanan.

Wagimin dan Suyatno membawa pulang bangkai kucing tersebut karena sudah lama tak merasakan memakan daging serta tak memunyai lauk untuk makan pada hari itu. Keduanya sehari-hari bekerja sebagai pemulung.

 

Baca juga : 

Viral Video : BIADAB! Pria Makan Kucing Hidup-Hidup di Kemayoran, Polisi Lakukan Penyelidikan

Makan Kucing Hidup-Hidup, Abah Grandong Terancam 9 Tahun Penjara

Pria Pemakan Kucing Hidup-Hidup Minta Maaf, Ngaku Aksinya Kebudayaan Banten Yaitu Debus

Pria Pemakan Kucing Hidup-Hidup Rencana Serahkan Diri ke Polisi Hari Ini

 

Koordinator Komunitas Jum’at Berbagi (KJB) Lampura, Firmansyah, bersama awak media mengunjungi rumah yang saat ini ditempati Wagimin dan Suyatno, Jumat (20/9/2019).

Rumah tanpa pintu dan jendela tersebut warisan milik orang tua mereka. Tak bisa dibilang layak, karena rumah tersebut dibangun memakai seng bekas. Di dalamnya tak satu pun ada perabotan.

“Mereka bukan orang gila. Saya kira, hanya depresi ringan yang sewaktu-waktu kambuh. Itupun tidak mengganggu warga sekitar. Saya yakin, depresi yang dialami keduanya disebabkan faktor ekonomi yang tidak mampu mereka atasi karena berbagai keterbatasan yang mereka miliki,” ujar Firmansyah.

Tim KJB sempat mampir ke pasar membeli berbagai kebutuhan sembako, lalu mendatangi kediaman dua warga prasejahtera itu.

Sesampai di sana, tim KJB Lampura disambut Wagimin. Tubuh Wagimin tampak kotor, kumal, dan dekil. Rambutnya sudah mulai memutih.

Ketika itu, Wagimin sedang memasak air di samping rumahnya dengan kayu bakar dan sebuah kaleng bekas sebagai pengganti panci perebus air.

“Ini air buat saya minum, Pak,” Ucap Wagimin sambil mempersilakan Tim KJB dan SMSI Lampura masuk ke dalam rumahnya seperti dikutip Suara.com dari Sinarlampung.com.

Komunikasi Wagimin sangat baik, normal normal saja bincang bincang dengan Koordinator KJB Lampura, Firmansyah.

Hal ini tentu menampik anggapan jika Wagimin adalah orang gila. SMSI Tim KJB Lampura kemudian menyerahkan berbagai bantuan sembako yang dihimpun dari para dermawan.

Kepada Wartawan, Wagimin mengakui dia bersama adiknya memakan kucing mati.

“Iya, Pak. Saya dan adik saya memang makan kucing mati. Waktu itu karena kepengin saja makan daging. Saya lihat kucing mati di pinggir jalan. Saya bawa pulang dan saya bakar untuk saya makan dengan adik,” kata Wagimin.

Ia menuturkan tak terbiasa memakan kucing. Tapi, karena pada hari itu tak memunyai bahan makanan.

”Hanya kebetulan saja ada kucing mati, makanya saya bawa pulang untuk dimakan,” tuturnya.

 
Reza Gunadha/suara.com
 
 
 
 

 

 
 

Related Post