SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Darkuni dan Salah Satu Cerpennya ; Tamasya Batin

Sunday, 17 February 2019 | 7:51 am | 130 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
PropellerAds

www.suarakaltim.com– H. Darkuni. Atau Kony Fahran, nama samaran dalam dunia sastra.  Atau Julak Ibus, nama lain saat menjadi penyiar radio di Suara Samarinda FM.

H. Darkuni lahir di Kalsel 17 Agustus 1960, pindah ke Kaltim pada 1991.  Meninggal dunia 28 Januari 2015 di Samarinda. 

Hosting Unlimited Indonesia

Karyanya banyak dimuat di media masa lokal dan nasional pada tahun 80-an hingga awal 90-an. Tulisan cerber, cerpen dan puisi di tahun 80-an hingga 90-an kerap dimuat di Suara Pembaruan, Sinar Pagi, Majalah Gadis, Majalah Putri Indonesia,Panjimas dan lainnya. 

Tahun 1991–2007 sibuk menjadi wartawan. Awal 2008 kembali aktif lagi menekuni sastra. Di antara puisinya termuat dalam antologi penyair nusantara “142 Penyair Menuju Bulan.” Diterbitkan KSSB-Kalsel/Arsyad Indradi (2007). di antara cerpennya dimuat dalam “Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia” (ed. korrie layun rampan, 2011) dan “Para Lelaki” (2011).

Sewaktu di Banjarmasin sempat mengasuh halaman budaya di harian Dinamika Berita. Dan aktif bersastra khususnya puisi. Saalah satu panggungnya  di RRI Banjarmasin.

Di Kaltim sempat mengasuh halaman seni di Kaltim Post. Kony Fahran pernah menjadi wartawan surat  kabar harian ManuntunG hingga berubah menjadi  Kaltim Post. Tahun 2004 mundur dari Kaltim Post dan menjadi pemred majalah Garda Kaltim. Pernah menjadi pemred dan mengasuh rubrik sastra di majalah Bongkar.Pernah mengasuh ruang sastra di Radio Antaranews Samarinda.

Bersama 4 wartawan Kaltim lainnya, Akhmad Zailani, Habolhasan Asyahari, Mukhransyah dan alm. Try Lestari cerpennya terhimpun dalam Cerpen Jurnalis Kaltim ; Para Lelaki/ Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya (2011).

 

Hosting Unlimited Indonesia

Ini Salah satu cerpennya :   Tamasya Batin

SEHARI, sepekan, sebulan berlalu bukannya menambah usia, tetapi terus berkurang. Pengurangan itu siapa pun tak mampu melawan. Waktu kian hari kian terbungkuk.

Begitu juga dengan Gandrik. Sejak usia berkepala empat, Gandrik yang memiliki sapaan Juragan kerap bermenung diri. Seperti  malam itu dia termenung di bawah pohon jambu halaman rumah. Di tangannya menimang-nimang sebilah pisau tajam. Bentuk pisau itu menyerupai pisau pemotong daging yang kerap dipakai para penjual daging di pasar rakyat. Tubuh pisau mengkilap.

Di perjalanan malam, arloji melingkar di pergelangan tangan Gadrik menunjukkan pukul 23.00. Sepi di sekeliling. Sepi yang membawa keberbenungan Gandrik kian dalam. Di sekeliling hanya suara hewan malam terdengar. Jengkrek bersenandung dengan bahasanya. Belalang meningkahi. Seolah bersahutan dalam zikir. Angin turut membewa kelana Gandrik. Kelena dalam rangkaian tamasya jiwa seorang Gandrik sang juragan besar.

Angin malam berhembus pelan. Dingin.

Pisau ditimang-timang Gandrik, kini erat dalam genggaman tangan kanan. Lelaki itu mendengus setelah menghela napas berkali-kali. Meludah ke sembarang arah.

Setelah sekian lama bermenung,  ibu jari tangan kiri ia tempel di batang pohon jambu. Ibu jari itu ia sayat dengan pisau. Seketika ibu jari putus. Darah mengucur. Gandrik tanpa meringis sedikit pun membalut luka dengan sobekan kain yang sedari tadi ia siapkan.

***

SETELAH itu. Gandrik masih saja suka bermenung diri di tempat sama. Di bawah pohon tergeletak setumpuk paku dan sebuah palu. Kedua benda itu dingin membisu.

Di usia berkepala empat lelaki itu seperti diburu penyesalan teramat dalam atas kezaliman diri yang merenggut pencerahan dan semata hanya ditutupi oleh jerami-jerami nista. Dinding-dinding penyesalan itu,  menampakkan banyak tulisan sesal. Bahkan uraian sesal itu seolah memenuhi seluruh dinding dalam pikiran Gandrik.

“Jemari tangan ini…,” keluh Gandrik. “Sudah terlalu banyak, bahkan sangat banyak meraup keburukan dunia,” usai berkata dengan nada menghujat seperti itu, Gandrik kembali menempelkan telapak tangan kiri dan membacokkan pisau yang sama sekuatnya ke telapak tangan.  Seketika telapak tangan  putus.  Tentu saja darah mengucur.

Dinding-dinding penyesalan itu melebar menyisakan ruang yang belum bertuliskan sesal. Ketika pikiran Gandrik menyerbu sisi ruang di dinding yang kosong. Dalam sekejap, sisi kosong itu terisi tulisan ribuan sesal yang baru. Kepingan-kepingannya seperti emping belinjo berjamur. Sesal itu berjamur, berkarat menempel di mana-mana. Gandrik bergidik. Tamasya jiwa itu hendak menyudahi tamasyanya. Namun tangan menahan.

“Tangan ini terlalu banyak memikul dosa,” hujat Gandrik kemudian.

Sisa tangan yang sudah tidak bertelapak itu ia tempelkan di batang pohon jambu. beberepa detik tangan dibiarkan menempel di situ. Selanjutnya tangan  dia tebas lagi hingga sebatas siku. Sekali tebas, lengan putus. Menggelinding ke bawah pohon jambu berdaun rindang yang tinggi pohonnya melebihi atap rumah. Pohon jambu air itu di tanam Gandrik di sisi halaman kanan rumahnya ketika dia berusia 20 tahun. Setiap tahun berbuah.

Dinding penyesalan kembali melebar. Ada lagi sisi ruang kosong. Kekosongan itu membuka diri. Penuh dan memampangkan terbuka. Sunyi di sekeliling. Tamasya jiwa lelaki itu melangkah. Kaki Gandrik terasa berat. Dia sepertinya dihadapkan pada kelelahan.

“Kaki…!”

“Kaki ini terlalu sering melangkah dalam kekeliruan. Beban dosanya terlalu berat hingga tak kuat menyangga berat tubuh,” lelaki itu menghujat kepada kedua kaki.

“Kaki yang gemar menginjak lembah-lembah dosa!”

Ada semacam bisikan di tengah perjalanan tamasya batin Gandrik. Bisikan itu memberi perintah agar lelaki itu  melunjurkan kedua kaki. Setelah melucuti celana panjang. Kemauan bisikan itu dia turuti. Setelahnya. Kedua kaki itu pun ia tebas. Masing-masing kaki putus jadi tiga bagian. tebasan pertama sebatas mata kaki, tebasan kedua sebatas dengkol dan ketiga sebatas pangkal paha. Tamasya jiwa itu berdarah-darah.

Kini pria dengan usia kepala empat itu tidak berkaki dan tidak bertangan kiri.

Lelaki berdarah-darah itu melucuti semua pakaian. Telanjang sepenuhnya. Sukmanya pun ia telanjangi dalam pelototan purnama dan belai angin. Suara jengkrek dan belalang saling tingkah. Di kejauhan, lolong anjing memanjang seolah memandu tamasya seperitual Gandrik.

Di sekeliling sunyi. Malam terus merambat. Purnama tepat di ubun-ubun. Dalam terang bulan, pandangan lelaki itu hinggap pada kemaluan yang sudah tertelanjangi.

“Kemaluan tak tahu diri tak tahu malu,” hujat lelaki itu.

“Birahi sangat gampang menundukkan kemaluan.”

“Kemaluan  selalu menurutkan hawa nafsu!”

“Jinah tak terkendali!”

“Dosa berlipat-lipat telah melumuri kemaluan!”

“Tebas…!”

Gandrik secara spotanitas kenempelkan batang kemaluan di atas batu. Kemudian tanpa ragu menebas benda yang terdiri dari tulang rawan  berdaging yang bisa mengendur dan bisa mengencang. Kejantanan Gandrik itu pun putus. Dia melempar benda putus itu ke sembarang arah. Kebetulan jatuhnya di hadapan anjing yang berkeliaran malam. Tapi aneh, setelah membaui sesaat, anjing itu tidak menerkam batang kemaluan yang berdarah dengan taring giginya. Malah anjing lari terbirit-birit tanpa suara. Anjing hilang ditelan malam.

Tamasya jiwa itu terasa meliar. Lebih liar dari anjing liar.

Sunyi di sekeliling kian menebal. Bahkan di tengah malam itu angin seolah enggan berhembus. Purnama beringsut ke balik awan. Suara jengkrek dan belalang di balik rimbun perdu mengendur. Tingkah suaranya bagai rintihan.

Dinding-dinding penyesalan melebar menyisakan sudut kosong. Entah kekuatan apa  yang membuat sudut kosong itu menghadirkan warna dalam gelap. Warna itu didominasi merah darah. Tapi jelas, lelaki berdarah itu mampu mengeja aksara yang tercantum di sela-sela warna tersebut. Aksara itu menghadirkan kata: lidah.

Lidah yang sedari tadi menghadirkan terjemahan-terjemahan sesal tak berkesudahan.

“Ya, lidah.”

“Kenapa dengan lidah? Ada apa pada lidah? Adakah lidah pernah berhenti mengucap penilaian-penilaian di sepanjang perjalanan tamasya jiwa saat ini? Lidah…”

“Lapalan lidah selalu mengarah pada keburukan.”

“Uraian-uraian fitnah banyak dilapalkan lidah. Lidah  sangat akrab dengan dosa. Dosa pengucapannya menempel tak terhapus.”

“Julurkan lidah!”

Gandrik menjulurkan lidah semampunya. Dengan cekatan, lidah terjulur itu ia pakukan pada batang pohon jambu. Setelah terpaku kuat, ia menarik lidah dengan memundurkan kepala.  Lidah terpaku sedikit memanjang. Setelah itu ia sayat lidah dengan mata pisau. Hanya butuh waktu beberepa detik, lidah yang sering berucap itu putus. Darah segar langsung muncrat dari mulut Gandrik yang kerap kali dilewati minuman memabukkan dan makanan-makanan yang sumbernya dari ketakpedulian soal haram.

Setelah lidah putus. Sedikit pun lelaki itu tidak merintih atau mengaduh.

Malam itu, dalam tamasya jiwa Gandrik membawa tubuh terguling. Tubuh yang sedikit agak tambun itu terjerembab ke tanah. Diam dan bisu.

Dalam posisis telentang, Gandrik memandang bulan yang kembali menyembul dari balik awan. Setelah puas memandangi purnama penuh, lelaki itu memejamkan mata sesaat. Tamasya jiwa itu pun menggandeng batin. Batin pula menghadirkan terjemahan ke mata.

“Mata,” desis lelaki itu.

“Ada apa dengan mata?”

“Kedua biji mata amat sering menyaksikan hamburan-hamburan aurat…”

Belum lagi selesai kalimat itu. Gandrik mengambil paku menusukkan paku ke bola mata dan secepatnya memalu paku-paku itu hingga melesat ke dalam kedua biji mata.

Darah sudah begitu banyak keluar dari tubuh Gandrik. Luka-luka di tubuh itu seolah menjadi rambu penunjuk jalan tamasya jiwa dan batin.

Purnama di langit meredup tertutup awan hitam. Gandrik merasa dirinya sudah menumpas habis napsu-napsu yang ada di tubuh.

Dalam kebutaannya itu, dia teringat dengan kening yang jarang sekali menunduk. Lebih-lebih sujud. Ingat itu, Gandrik menancapkan mata pisau tepat di kening. Hampir setengah mata pisau amblas menembus sampai ke temperung kepala.

Lelaki itu bangkit dari sujud terakhirnya disepertigamalam. Ia usapkan kedua telapak tangan ke wajah. Pikiran yang mengembara dalam tamasya jiwa dan batin tadi ia kembalikan se-utuhnya. Sesempurna-purnanya menyusupkan irama satir bagi segenap sendi-sendi yang ada di tubuh.

Ada suara tangis di kamar sebelah. Suara tangis putra terkecilnya. Ada suara istrinya yang mencoba membujuk si kecil. Kesadaran Gandrik kembali penuh setelah jiwanya terbawa ke alam tamasya batin dalam gandengan yang maha putih berbalutkan pencerahan.

Jiwa pun menyelusup dalam alam sadar. Gandrik kembali ke dunia fakta.**

Samarinda-Banjarmasin Ok,2010.

BACA JUGA

BULAN LUKA cerpen Akhmad Zailani

TELANJANG cerpen Mussidi (Cerpenis Brunei Darusassam)

TULAH cerpen Haboshasan Asyari

 

Hosting Unlimited Indonesia

Leave a Reply