SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Alat-Alat Kontrasepsi Jadi Nama Jalan di Sukoharjo

Friday, 12 April 2019 | 4:29 am | 61 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
PropellerAds

Nama jalan dari alat-alat kontrasepsi di Sukoharjo, Jawa Tengah. (Foto: Indah Septiyaning W/Solopos

SUKOHARJO, SUARAKALTIM – Memasuki wilayah Kedung Batang Dukuh, Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pengunjung akan mendapati papa nama jalan yang tidak biasa. Lazimnya nama jalan banyak menggunakan identitas pahlawan, jenis buah, atau tanaman.

Hosting Unlimited Indonesia

Nuansa berbeda ditunjukkan di wilayah yang menjadi percontohan Kampung Keluarga Berencana (KB) Tingkat Nasional itu. Ada Jalan IUD, Jalan MOW (Medis Operatif Wanita), hingga Jalan Suntik di papan nama jalanan di Kedung Batang menghiasi wilayah tersebut. Bahkan, pemberian nama Jalan Bahagia juga ada

Pemberian nama jalan yang erat kaitannya dengan program KB itu sejak wilayah tersebut dicanangkan sebagai Kampung KB oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pada pertengahan 2017.

Tiga RT di Kedung Batang menjadi sasaran Kampung KB, yakni RT 02 RW 05, RT 03 RW 05, dan RT 03 RW 06 dengan jumlah penduduk 485 jiwa, di mana rata-rata per keluarga ada tiga jiwa. Perinciannya perantau 246 jiwa atau 50,72 persen dan domisili 239 atau 49,28 persen.

Kepala Desa Ngasinan, Ibnu Wiyatno, mengatakan pembentukan Kampung KB di Dukuh Kedung Batang melalui beberapa tahapan. Diawali survei wilayah oleh petugas penyuluh lapangan KB (PLKB) ke berbagai wilayah RT, RW, dan dukuh.

Survei dilakukan guna mengetahui wilayah mana yang sesuai dengan persyaratan dan kriteria Kampung KB.

Nama jalan alat kontrasepsi di Sukoharjo. (Foto: Indah Septiyaning W/Solopos)

Hosting Unlimited Indonesia

“Dari hasil survei itu, wilayah Kedung Batang layak menjadi Kampung KB. Kondisi kampung paling kumuh. Di mana sebelah barat ada Sungai Buntung dan utara Sungai Bengawan Solo,” kata Ibnu saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu 10 April 2019.

Selain kumuh, kriteria lainnya juga memenuhi syarat seperti masih banyaknya keluarga prasejahtera serta jumlah laki-laki peserta KB sedikit. Atas kondisi ini, perangkat desa bersama tokoh masyarakat dan warga sepakat membentuk Kampung KB diwilayah Kedung Batang.

BACA : Viral Komik Jepang Sindir Jokowi Pamer Prestasi tapi Utang Proyek MRT Tak Bayar

Koordinasi dilakukan pemerintah desa dengan Pemkab Sukoharjo. “Segala persiapan dilakukan hingga akhirnya dicanangkan Kampung KB di Kedung Batang, termasuk memberikan nama jalan dengan nama-nama yang berhubungan dengan KB, seperti alat kontrasepsi,” kata Ibnu.

Kampung KB merupakan salah satu bentuk atau model miniatur pelaksanaan total program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) secara utuh yang melibatkan seluruh bidang dan mitra kerja instansi terkait.

Pembentukan Kampung KB sekaligus memudahkan pemerintah dalam mengintervensi pembangunan berwawasan kependudukan dengan cara mengendalikan, menunda, serta menjarakkan waktu kelahiran.

Dalam programnya pun Kampung KB tidak hanya menggarap program KB, melainkan juga pembangunan di sektor lain, seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan ataupun perumahan.

“Saat ini Kampung Kedung Batang tak lagi wilayah kumuh dan pinggiran, tapi sudah jauh lebih baik. Infrastruktur dibenahi sehingga tidak kumuh,” ucap Ibnu.

okezone

 

 
Hosting Unlimited Indonesia

Leave a Reply