SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Aksi Damai Peringatan 8 Tahun Arab Spring di Maroko Ditanggapi Represif

Friday, 22 February 2019 | 6:10 am | 134 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
PropellerAds

RABAT, www.suarakaltim.com – Pasukan keamanan Maroko menembakkan meriam air kepada para guru sekolah umum yang mengikuti aksi damai memperingati Arab Spring di Rabat. Massa yang berkumpul juga dipukuli dengan tongkat untuk mencegah mereka menuju istana kerajaan, yang menyebabkan puluhan orang terluka.

Demonstrasi diadakan pada hari Rabu 20 Februari, menandai delapan tahun kelahiran gerakan protes Musim Semi Arab Maroko yang membangkitkan semangat perjuangan di kerajaan Afrika Utara ini.

Hosting Unlimited Indonesia

Ribuan guru sekolah umum turun ke jalan di ibukota Maroko untuk memprotes kontrak jangka tetap yang telah berlaku sejak 2016, yang tidak kebutuhan kesehatan dan pensiun.

BACA JUGA 

 Di Malam Munajat 212, Habib Rizieq Sindir Penegakan Hukum Suka-suka

Di Munajat 212, Fahri: Ya Allah Tumbangkan Kekuasaan Orang Munafik

Mayoritas peserta aksi mengenakan jubah guru warna putih. Mereka menentang peluang terbatas bagi guru berpangkat rendah, yang berpenghasilan rata-rata $ 454 per bulan.

“Kami melakukan pawai yang damai, tetapi sayangnya, polisi menindak kami. Para guru jatuh ke tanah. Para guru dihina. Pesan kami adalah pendidikan. Hentikan ketidakadilan,” teriak seorang demonstran Naima Kalaii, yang datang dari Maroko timur.

Hosting Unlimited Indonesia

Seorang juru bicara kementerian pendidikan mengatakan bahwa pemerintah akan mengadakan pertemuan pada hari Senin dengan serikat guru untuk membahas tuntutan mereka.

“Kami memilih untuk mengadakan pawai kami pada hari ini, yang memperingati gerakan 20 Februari, karena itu melambangkan perjuangan untuk martabat,” kata Omar el-Gasmi, anggota kelompok guru pada kontrak jangka tetap.

Para demonstran berkumpul di Rabat tengah sambil memegang spanduk bertuliskan “janga membongkar sekolah-sekolah umum” sebelum beberapa orang memutuskan untuk berbaris di istana kerajaan.

Seruan untuk “mengakhiri kediktatoran” di kerajaan Afrika Utara juga diucapkan. Protes berlanjut dengan dukungan dari serikat pekerja dan gerakan Maroko yang dilarang.

Warga Maroko tidak secara langsung menjatuhkan rezim seperti di Tunisia dan Mesir pada 2011, tetapi mereka sekarang secara rutin mengadakan demonstrasi untuk mengatasi masalah kekurangan air di provinsi-provinsi yang terabaikan hingga kekerasan seksual dan tindakan represif polisi.

Menurut kementerian hak asasi manusia, rata-rata dilakukan 48 protes setiap hari di Maroko. kiblat.net

Sumber: Al-Jazeera

Hosting Unlimited Indonesia

Leave a Reply