Header Image

“Perang Saudara” di Pemilihan Pemimpin

“Perang Saudara” di Pemilihan Pemimpin

 

Akhmad Zailani

 

 

 

 

 

 

PERANG OLOK-OLOK

Di Indonesia saat ini masih terjadi “perang saudara”. Sejak “perang saudara” pertama antara Jokowi dan pendukung versus Prabowo dan pendukung di Pilpres 2014, kemudian perang ke II  berlanjut  antara Ahok beserta sekutu dan pasukannya melawan  Anis beserta sekutu dan pasukannya di tahun 2017. 

Perang besar masih terus berlangsung.  Belum berakhir. Perang besar ke III akan terjadi di Pilpres 2019. Terjadi  karena Jokowi akan kembali maju untuk  merebut kursi jabatan Presiden 2019.    “Musuh” Jokowi  kembali  akan ada. Di “kubu” lawan, siapa pun “penantang Jokowi”  itu.  Andai bukan Prabowo sekalipun.   Mereka yang “anti Jokowi” akan mendukung “jago baru” tersebut. Seperti  Pilkada DKI, “asal bukan Ahok”. Bila kotak kosong sekalipun

Sebenarnya  perang saudara di bidang politik ini telah terjadi sebelumnya.  Menjelang Pilpres 2014, ketika para  SBYmania muncul.  Walaupun hanya “perang kecil”. Karena tidak ada saling lapor, tidak ada yang ditangkap polisi,tidak ada yang diperkusi, tidak ada yang dituduh makar, tidak ada yang  saling bully.

Bila pun sudah ada, “kebisingan” relatif kecil. Satu faktor di antaranya yang berperan sehingga “perang” cukup seru dan dahsyat, karena adanya media sosial.  

“Perang Saudara” juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia.  Saat Pilkada serentak. Di “medan pertempuran” pemilihan kepala daerah.  Saling nyinyir, saling olok-olok, saling ledek, saling bully dan lainnya di antara pendukung calon pemimpin.

KULTUS

Sejak pemilihan langsung,  presiden, walikota dan bupati dipilih langsung.  “perang “ yang tidak kreatif ini telah terjadi.  Para maniak ini mendukung “jago”  mereka (baca calon pemimpin) secara berlebihan. Memuji setinggi langit jagoannya, dan menghempas ke tanah yang becek saingannya. Tiba-tiba saja orang-orang menjadi “pintar”. Di media sosial. Berdebat segala hal.  Politik sampoai ke agama. Sampai ke ayat-ayat keyakinan pun dikeluarkan.  Saya teringat kata-kata mutiara yang saya baca waktu SMP (sehingga lupa persis kalimatnya dan siapa yang menyebutkan).  “paling sulit itu berdebat sama orang bodoh.”   Artinya, orang bodoh yang ngotot. Tidak bisa menerima argumen lawan diskusi.  Pokok-pokoknya itulah. Bila orang pintar kan bisa menerima, bila argumen lawan diskusinya masuk diakal.

Saking mengkultuskan pada figur, sehingga saat zaman sebelum SBY hingga zaman Jokowi ini (di tenagh-tengah ada “periode Ahok” di masyarakat kita,  akhirnya muncul sepertri “mengkultuskan”.  Belum hilang ingatan, bila minta contoh sebutkan; ada elit politik yang “menyamakan”  seseorang  seperti khalifah Umar bin Khattab.   Bila di era SBY, bahkan saking “maniaknya”,   andai “dipasangkan dengan sandal jepit pun” SBY akan menang.

“PELURU PERANG NYINYIR”

Menghadapi Pilpres 2019, Jujur,  saya tidak ingin berada dalam “perang olok-olok” ini. Apalagi terseret arus dan masuk dalam salah satu blok.  Saling  meledek dan menjelek-jelekkan di salah satu kubu.  Memeras energi pikiran dan emosi serta membuang waktu.   

Perang saudara 2019  antara Jokowi vs lawannya (bila 2 pasangan calon presiden-cawapres.  Bila ada ada 3 paslon, tetap akan ada 2 kubu besar dukungan yang terbelah.  Itu bila tidak ada kotak kosong, Jokowi vs kotak kosong.   Bilapun ada,  juga akan ada 2 kubu berseberangan.  Kotak kosong akan diupayakan dimenangkan oleh lawan Jokowi.  Kejadiannya akan “mengkondisi s endiri.”

Jujur,  2019 sebenarnya saya ingin ada presiden baru. Selain Jokowi. Juga bukan Prabowo.  Paling tidak bagi saya ada kemungkinan, agar “perang saudara” bisa berakhir.  Setelah itu, para elit politik, para orang-orang parpol tidak “ngomong sembarangan”. Agar tidak ada “ujaran kebencian, saling bully, dan lain sebagainya itu.

Resiko kejujuran model saya ini imbasnya saya dianggap bukan barisan pendukung Jokowi. Begitulah kondisi saat ini. Padahal saya hanya tidak ingin termasuk  yng disebut “kecebong/cebongers” atau “kampret”, “mulut jamban”,  “kaum kafirun” atau “kaum munafikun”,  “kaum bumi datar”, kelompok  “bani taplak dan bani serbet”, dan beberapa “sebutan” lainnya.  Saya tidak ingin masuk ke dalam golongan itu.  Jauh dari itu, saya ingin kita semua kembali hidup dalam perasaan damai,  menjalankan kegiatan termasuk kegiatan keagamaan dengan kehidupan perekonomian yang lebih baik. 

Memang sulit  untuk kita berada di tengah. Ibarat dua kelompok gajah yang berkelahi, pelantuk mati di tengah. 

Bila pun kita memposisikan berada di tengah,  jangan-jangan nanti malah akan muncul istilah baru lagi, cap yang lebih seram, diserang dari 2 sisi  oleh kelompok “cebonger ” di kanan dan diserang kelompok “kamprets” di kiri.

Saran saya. Keluar lah dari grup “cebongers dan sekutunya”, juga berhentilah bergabung bersama “Kamprets dan sekutunya”. Biar yang tersisa orang-orang partai saja, politikus.

Hahaha.  sorry brothers. #KolomKepalaSuku

 

Sumber foto timur-angin.com.

 

Leave a Reply

shares