SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Viral Kisah Horor “KKN di Desa Penari” Jadi Misteri

Wednesday, 4 September 2019 | 7:58 am | 107 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
Poster Kisah KKN di Desa Penari (Foto: Twitter @simpleM81378523)
 

MEDIA  sosial kembali dihebohkan dengan kisah horor dengan judul “KKN di Desa Penari”. Cerita yang diunggah akun SimpleMan di akun twitter itu menjadi viral karena mengundang berbagai tanda tanya.

Cerita itu berawal dari beberapa mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mereka adalah Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton. Cerita itu kabarnya terjadi pada tahun 2009 akhir.

Setelah mendapat persetujuan dari kampus, mereka akhirnya memulai perjalanan KKN menuju desa yang dituju. Dalam perjalanan menuju desa yang dituju, mereka mulai merasakan berbagai kejadian mistis seperti terdengar suara gamelan hingga orang yang menari.

Mereka pun akhirnya tiba di desa yang dituju hingga akhirnya bertemu kepala desa yang bernama Pak Prabu. Hingga keesokan harinya, Pak Prabu mulai mengajak para calon sarjana itu keliling desa.

 

KKN

Baca Juga: Viral Bus Polisi Tabrak Pemotor

Di perjalanan pertama mereka, Pak Prabu mengajak para mahasiswa KKN itu ke sebuah pemakaman yang aneh. Sebuah pemakaman yang dikelilingi pohon beringin itu, terdapat batu nisan yang ditutupi kain hitam. Bahkan ada sesajen di setiap batu dekat pohon beringinnya.

“Ini itu namanya, Sangkarso. Kepercayaan orang sini, jadi biar tahu, kalau ini loh pemakaman,” kata Pak Prabu menjawab keanehan para mahasiswa itu.

“Orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola pak,” lirih Wahyu dan Anton menjawabnya yang dijawab langsung oleh Pak Prabu. “Semoga saja, kalian tahu yang di omongkan ya,” jawab Pak Prabu.

Kemudian mereka diajak kembali untuk melihat tempat-tempat lainnya. Hingga akhirnya Nur izin pulang ke rumah singgah yang dihantar oleh Bima. Perjalanan pun dilanjutkan oleh empat orang mahasiswa lainnya.

Hingga pada suatu malam keanehan mulai dirasakan para mahasiswa tersebut seperti Widya yang mulai menari-nari. Melihat Keanehan itu, pak Prabu segera membawa para mahasiswa itu seperti Bima, Widya dan Ayu dengan menggunakan motor ke tempat orang yang dituakan di desa itu yang disebut Mbah Buyut.

Setibanya di rumah Mbah Buyut, para mehasiswa itu diminta meminum kopi ireng. Ternyata, kopi yang rasanya pahit itu merupakan racikan untuk memanggil lelembut, demit dan sejenisnya.

Setelah kunjungannya disimpulkan jika ada sosok makhluk gaib yang mengikuti Widya. “Mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti,” kata Pak Prabu kepada Widya.

 

KKN mereka pun tetap berjalan sesuai rencana. Hingga akhirnya Wahyu dan Widya harus pergi ke kota untuk kebutuhan KKN nya dengan meminjam motor pak Prabu.

Setelah menembus hutan, mereka pun tiba ke kota dan membeli berbagai kebutuhannya untuk di desa. Selesai itu, Wahyu dan Widya kembali ke desa dengan kembali memasuki hutan.

Selama perjalanan menuju desa, motor yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Setelah beberapa lama, mereka pun bertemu dengan bapak tua yang mencoba menolongnya.

Sambil mencoba memperbaiki motor mereka, Wahyu dan Widya disuguhkan makanan hingga melihat beberapa penari yang cantik ikut melintas. Bahkan, Widya dan Wahyu ikut membungkus makanan tersebut.

Namun, sesampainya di desa bungkus makanan tersebut ada kepala monyet yang masih segar lengkap dengan bau amis dan masih berlendir.

Puncak keanehan terjadi saat Widya melihat sosok Bima yang sedang mandi di kolam sambil dikelilingi ular yang banyak sekali. Tidak hanya itu, Widya pun melihat Ayu menari-nari.

Usut punya usut, Bima dan Ayu dinilai sudah melakukan hal yang dilarang norma dan peraturan di desa tersebut. Sehingga, peristiwa yang terjadi kepada Bima dan Wahyu merupakan bagian dari hukumannya.

 

Alhasil, saat itu tubuh Ayu masih terbaring dengan mata melotot seperti orang lumpuh. Sementara tubuh Bima masih kejang-kejang.

Hingga akhirnya rombongan pihak keluarga dan panitia KKN tiba di desa dan membawa Ayu dan Bima, walaupun sebelumnya Widya sempat meminta agar keduanya tetap tinggal di desa.

Namun, keduanya tetap dibawa pulang. Tidak lama berselang keduanya pun akhirnya dikabarkan meninggal dunia. Hingga kini belum diketahui kebenaran cerita yang terjadi di sebuah kota berawalan B di Jawa Timur itu.

Lokasi Cerita ‘KKN di Desa Penari’ Masih Misteri, Kini Mengarah ke Sebuah Desa di Bondowoso

Lokasi Cerita 'KKN di Desa Penari' Masih Misteri, Kini Mengarah ke Sebuah Desa di Bondowoso
 
Kolase twitter @SimpleM81378523
 
Pengakuan dan Klarifikasi Penulis Kisah KKN Horor di Desa Penari yang Viral, Foto Hanya Menyerupai 
 
Teka-teki lokasi pasti dalam cerita horor Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penari masih belum terpecahkan.

Sebelumnya, banyak warganet menduga lokasi dalam cerita KKN di Desa Penari berada di Rowo Bayu di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hal itu berdasarkan foto sebuah telaga yang muncul dalam cerita yang diunggah sang pengarang cerita, SimpleMan.

 
 

Setelah ditelurusi, foto telaga itu rupanya adalah Rowo Bayu di kaki Gunung Raung. 

Rowo Bayu Banyuwangi yang dikaitkan dengan KKN Desa Penari
Rowo Bayu Banyuwangi yang dikaitkan dengan KKN Desa Penari (Instagram.com/ @nungkydebelmilkybanyuwangi)

Namun, SimpleMan kemudian mengklarifikasi Rowo Bayu bukanlah lokasi dalam cerita hooror KKN di Desa Penari.

Ia memastikan Rowo bayu tak terkait dengan cerita KKN di desa penari.

“Saya tegaskan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Rowo Bayu. Jadi untuk temen-temen dimohon kebijaksanaan, ada yang harus saya jaga salah satunya adalah amanat. Semoga klarifikasi saya membuat teman-teman tidak mengkaitkan dengan Rowo Bayu,” jelas SimpleMan dalam pernyataanya di Youtube Raditya Dika yang diunggah Jumat (30/8/2019).

KKN di Desa Penari
KKN di Desa Penari (Twitter/ @SimpleM81378523)

Kini, muncul analisa baru yang menyebut lokasi KKN di Desa Penari adalah Desa Wonoboyo Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso.

Analisa itu ditulis oleh wartawan harian Kompas, Angger Putranto.

Analisa wartawan Kompas ini mengacu pada petunjuk lokasi yang dikemukakan SimpleMan dalam cerita KKN di Desa Penari. 

Penelusuran dimulai dari petunjuk tentang kota/kabupaten B. 

Berikut cara penelusuran Kompas sebagaimana dikutip Tribunnews.com, Minggu (1/9/2019):

Kota B

Penulis kisah misteri tersebut tampaknya tidak terlalu mahir dalam membedakan kota dan kabupaten karena menyebut kabupaten sebagai daerah yang berada dalam administrasi kota.

”Nang kota B, gok deso kabupaten K***li**, akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, disebuah desa di kabupaten K*******, banyak proker untuk dikerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita),” cuit SimpleMan.

Dari sembilan kota di Jawa Timur, hanya Kota Blitar yang menggunakan istilah B. Kabupaten di Jawa Timur yang diawali huruf B adalah Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, dan Bondowoso. Sementara kabupaten yang berawalan dengan huruf K di Jawa Timur hanya Kediri.

Kompas menduga, penulis bermaksud menyampaikan informasi bahwa kisah mistis tersebut di Kota/Kabupaten B, dengan kecamatan/kota kecamatan K. Dengan demikian, lokasi menyempit menjadi 6 kota/kabupaten, yaitu Kota dan Kabupaten Blitar, Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, dan Bondowoso.

Dari keenam kota/kabupaten tersebut, semuanya memiliki kecamatan atau kota kecamatan berawalan K. Di Kota Blitar terdapat Kecamatan Kepanjen Kidul. Di Kabupaten Blitar terdapat kecamatan Kanigoro, Kademangan, dan Kesamben. Perlu dicatat, Kecamatan Kanigoro merupakan kota kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Blitar. Apakah ini lokasi ”KKN di Desa Penari” tersebut? Sabar, kita bedah daerah yang lain terlebih dahulu.

Kabupaten Bangkalan juga memiliki kecamatan berawalan huruf K, yaitu Kamal, Klampis, Kokop, Konang, dan Kwanyar. Sementara di Banyuwangi, terdapat Kecamatan, Kabat, Kalibaru, dan Kalipuro.

Bojonegoro menjadi kabupaten dengan jumlah kecamatan berawalan huruf K terbanyak, yakni Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, dan Kepohbaru. Sementara di Bondowoso, hanya ada Kecamatan Klabang yang berawalan huruf K.

Desa W

Sampai titik ini, lokasi pasti Kota B dan Kabupaten K masih menjadi misteri. Namun, dalam lanjutan cuitan SimpleMan, ia kembali menyebut Desa W sebagai lokasi KKN Nur dan kawan-kawannya.

”Sampailah mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan,” cuit SimpleMan.

Kompas berusaha mempersempit pencarian dan terpaksa mencoret Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bangkalan, dan Kabupaten Banyuwangi. Penyebabnya, kota/kabupaten tersebut tidak memiliki desa berawalan huruf W di kecamatan yang berawalan huruf K.

Sementara di Bondowoso, Kompas menemukan dua desa berawalan huruf W di Kecamatan Klabang. Kedua desa tersebut ialah Desa Wonoboyo dan Wonokerto.

Bojonegoro, yang semula menjadi kabupaten dengan jumlah kecamatan berawalan huruf K terbanyak, ternyata juga memiliki banyak desa yang berawal dengan huruf W. Desa-desa tersebut ialah desa Wotanggare di Kecamatan Kalitidu, Desa Wedi di Kecamatan Kapas, Desa Wonocolo di Kecamatan Kadewan, dan Desa Woro di Kecamatan Kepohbaru.

Alas D

Penelusuran lokasi terjadinya kisah misteri KKN di Desa Penari sampai titik ini mungkin terjadi di tujuh desa, dalam lima kecamatan di dua kabupaten. Apakah masih ada petunjuk lain? SimpleMan masih menyebut satu lokasi lagi, yaitu Alas D.

”Mboten, mas, berhenti di jalur Alas D engken enten sing jemput” (tidak mas, nanti berhenti di jalur hutan D, nanti ada yang jemput) sahut Nur,” cuit SimpleMan.

Tak hanya itu, SimpleMan juga memberi keterangan bahwa lokasi KKN di Desa Penari berjarak 4 jam hingga 5 jam dari kota S. ”Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S,” tulis SimpleMan.

Di Jawa Timur, hanya Kota Surabaya yang berawal huruf S. Penelusuran menggunakan fasilitas Google Maps menunjukkan perjalanan dari Surabaya ke Bojonegoro paling lama 3 jam 31 menit, sedangkan perjalanan dari Surabaya ke Bondowoso sekitar 4 jam 40 menit.

Maka, semakin meruncinglah dugaan lokasi kisah misteri KKN di Desa Penari tersebut.

Kota B, Desa Kabupaten K, Desa W yang dimaksud penulis kemungkinan ialah Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso.

Namun, alas D masih menjadi misteri karena tidak ada petunjuk khusus yang mengarah ke sana.

Foto-foto Desa Wonoboyo Bondowoso

Tribunnews.com mencoba mengakses Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso melalui google maps. 

Berikut foto-fotonya: 

Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso
Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso (googlemaps)
Desa Wonoboyo
Desa Wonoboyo (google maps)
Wonoboyo
Wonoboyo (Google Maps)

Foto-foto lengkap Desa Wonoboyo selengkapnya via google maps, bisa anda akses melalui tautan ini: Link

Belum atau Tidak Berniat Baca Cerita KKN di Desa Penari? Bisa Jadi karena Anda Memiliki IQ Tinggi

KKN di Desa Penari beberapa hari belakangan kerap diperbincangkan oleh warganet.

Laman Facebook, Twitter, dan media-media online pun diisi pembahasan mengenai kisah ini.

Namun, seperti dilihat di kolom komentar Facebook untuk artikel Kompas.com mengenainya, masih ada orang-orang yang belum dan mungkin tidak berminat membacanya.

Bila Anda termasuk salah satunya, tidak perlu berkecil hati karena ketidakmauan Anda untuk baca cerita horor yang sedang tren ini bisa jadi pertanda Anda punya IQ tinggi.

Pasalnya, ada sebuah penelitian dalam jurnal Evolution and Human Behavior pada 2015 yang menemukan bahwa sikap non-konformis adalah pertanda IQ tinggi.

Menurut temuan tersebut, orang-orang dengan IQ tinggi tidak membuat keputusan dengan mengikuti orang lain. Akan tetapi, bila mereka memutuskan untuk mengikuti mayoritas, itu dilakukan dengan lebih strategis.

“Dengan kata lain, orang-orang pintar biasanya membuat jalannya sendiri karena mereka pikir mereka punya jawaban yang benar. Tapi ketika mereka tidak yakin, mereka lebih mau daripada orang-orang dengan IQ biasa untuk mengikuti mayoritas,” ungkap penelitian, seperti dilansir siaran persnya, 28 Juli 2015.

Para peneliti dari University of British Columbia (UBC) mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan eksperimen mengenai informasi sosial atau informasi yang kita dapat dari orang lain terhadap 101 orang.

Dalam eksperimen ini, para partisipan diminta untuk membandingkan panjang berbagai garis.

Namun, sebelum menjawab, mereka diberi tahu jawaban partisipan lain.

Mayoritas partisipan memutuskan dengan mengikuti pilihan mayoritas, apalagi bila pilihannya semakin banyak dan mereka semakin bingung.

Namun, tidak dengan orang-orang yang ber-IQ lebih tinggi. Mereka lebih yakin dengan jawaban mereka sendiri dan tidak mudah dipengaruhi oleh jawaban orang lain.

Penerbit Bukune akan menerbitkan novel KKN di Desa Penari pada September 2019. Kisah horor KKN di Desa Penari viral di media sosial.
Penerbit Bukune akan menerbitkan novel KKN di Desa Penari pada September 2019. Kisah horor KKN di Desa Penari viral di media sosial. (Instagram @bukune)

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil temuan mereka bukan ingin mengatakan bahwa mengikuti mayoritas, atau dalam kasus ini ikut-ikutan membaca KKN di Desa Penari karena sedang tren, adalah hal yang buruk.

Malah, menurut pemimpin studi Michael Muthukrishna yang mendapat gelar PhD dari departemen psikologi UBC dan kini mengajar di London School of Economics, konformitas atau mengikuti mayoritas bisa jadi hal baik.

“Manusia itu konformis dan itu adalah sesuatu yang baik untuk evolusi kultural. Dengan menjadi seorang konformis, kita meniru hal-hal yang populer di dunia dan hal-hal itu biasanya baik dan berguna,” ujarnya.

Sebagai contoh, mayoritas orang tidak benar-benar mengerti bagaimana kuman bisa menyebabkan penyakit, tetapi mereka tetap cuci tangan setelah buang air karena itu baik untuk kesehatan. Muthukrishna mengatakan, seluruh dunia kita terdiri dari hal-hal yang kita lakukan karena baik untuk kita, tetapi kita tidak tahu alasannya.

“Kita tidak perlu tahu alasannya, kita hanya perlu tahu bahwa orang lain juga melakukannya,” katanya.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.id dengan judul: Mencari Jejak Desa Penari

 

Edi Hidayat/fitriadi/oz

Leave a Reply