MAGETAN BUTUH SUYATNI-WAHID, PASLON BUPATI-WAKIL BUPATI NOMOR 1# mantan wartawan koran harian Suara Kaltim yang Ingin mengabdi di Magetan

Tuesday, 6 March 2018 | 9:09 am | 552 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       

oleh : Prima Sp Vardhana /

 

 
 
 
Spektakuler. Itulah kata yang pantas disematkan untuk menggambarkan acara Mlaku Bareng Kang Suyat yang digelar di Kawasan Stadion Yosonegoro Magetan pada Minggu (10/12/17) pagi. Bagaimana tidak, peserta yang diperkirakan berjumlah hanya 50 ribu orang, yang datang menembus angka 100 ribu lebih. foto lintasmagetan.com

 

_____________________________________________________

foto tribratanews.polresmagetan.com

Saya prihatin dengan kondisi pasar-pasar di Kabupaten Magetan ini yang sangat memprihatikan, saya ingin menata ulang kondisi pasar tersebut

Demikian Calon Bupati Suyatni Priasmoro atau yang lebih dikenal dengan Kang Suyat.

_____________________________________________________

Sebanyak 71.200 warga (11,35%) dari 650.000 penduduk yang tersebar di 18 kecamatan dalam data Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Magetan masuk kategori miskin. Kondisi itu tak bergeming sejak sensus 2015 yang diselenggarakan Badan pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magetan. Sebuah kondisi yang berbanding terbalik dengan hasil panen padi masyarakat di lereng Lawu pada tahun 2016 sebanyak 3.370.713 kwintal atau naik 8,70% dari produksi tahun 2015 sebesar 3.101.112 kwintal. Sebuah fakta yang membuktikan terdapatnya sebuah masalah serius terkait kesejahteraan penduduk, yang tak mampu diselesaikan Bupati Magetan Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM., selama dua periode pemerintahannya. Kondisi itu tak akan berubah jika warga Magetan salah memilih pasangan bupati dan wakil bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018.

Suyatni Paslon nomor 1, menyerap aspirasi PPP. foto detik.com

 

KEMISKINAN mungkin sudah ditakdirkan akrab dengan penduduk berprofesi petani, khususnya yang berstatus penggarap lahan. Upah minimal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan harian, merupaka salah satu penyebabnya. Fakta itu dibuktikan oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim yang menyebutkan, kenaikan garis kemiskinan di pedesaan lebih tinggi dibanding perkotaan. Pada periode September 2014 hingga Maret 2015 tercatat garis kemiskinan di pedesaan naik sebesar 6,49% sementara di perkotaan naik 3,93%. Sepanjang periode September 2016 hingga Maret 2017 menurun 0,01%.

 

 

CALON BUPATI MAGETAN asal Desa Nglopang Kec. Parang, Suyatni Priasmoro siap membangun kesejahteraan rakyat Magetan, khususnya kaum petani yang selama ini masih banyak yang hidup dalam ekonomi pra-sejahtera. foto teropongnusa.com

Kabupaten Magetan termasuk penyumbang angka kemiskinan bagi Provinsi Jawa Timur. Sepanjang tahun 2011 hingga 2016 angka kemiskinan di Magetan cenderung menurun. Pada 2011 angka kemiskinan mencapai 75.044 jiwa (12,01%), pada 2012 sejumlah 71.600 jiwa (11,46%), 2013 sejumlah 76.000 jiwa (12,14%), 2014 sejumlah 73,970 jiwa (11,80%), 2015 sejumlah 71.160 jiwa (11,35%), dan pada 2016 sejumlah 69.240 jiwa (11,03%). Sementara dalam hitungan keluarga pra-sejahtera, hasil survei 2010 menunjukkan sebanyak 24.641 keluarga, 2011 sebanyak 23.754 keluarga, 2012 sebanyak 27.026 keluarga, 2013 sebanyak 24.750 keluarga, dan 2014 sebanyak 25.740 keluarga.

Ironisnya dari 18 kecamatan milik Kabupaten Magetan, data BPS menegaskan 12 kecamatan memiliki keluarga miskin tertinggi antara tahun 2011 hingga 2014. Data yang terungkap, pada 2014 menunjukkan Kecamatan Panekan memiliki keluarga miskin sebanyak 3.446 keluarga, Karas 2.954 keluarga, Sidorejo 2.133 keluarga, Takeran 1.777 keluarga, Kawedanan 1.761 keluarga, Bendo 1.492 keluarga, Ngariboyo     1.418 keluarga, Lambeyan 1.413 keluarga, Poncol 1.377 keluarga, Maospati 1.281 keluarga, dan Kartoharjo 1.032 keluarga.

____________________________________________________________________________

“Dari banyaknya kecamatan yang memiliki keluarga miskin atau pra-sejahtera tersebut, secara eksplisit membuktikan selama ini penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Magetan tak berlangsung secara tepat. Kesalahan itu membuat angka kemiskinan di 12 kesamatan tetap mayoritas,” kata Suyatni Priasmoro.

 

____________________________________________________________________________

 

Suyatni Priasmoro (Kang Suyat) dalam giat silaturahmi ingin mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat khususnya para pedagang serta minta doa restu kepada masyarakat dan pedagang di Pasar Takeran, dalam pencalonan sebagai Calon Bupati Magetan pada Pilkada 2018. foto tribratanews.polresmagetan.com

 

“Dari banyaknya kecamatan yang memiliki keluarga miskin atau pra-sejahtera tersebut, secara eksplisit membuktikan selama ini penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Magetan tak berlangsung secara tepat. Kesalahan itu membuat angka kemiskinan di 12 kesamatan tetap mayoritas,” kata Suyatni Priasmoro -pengusaha dari Desa Nglopang-Parang, saat dihubungi ponselnya, Minggu (10/09/2017) siang.

Dengan luas wilayah Magetan sebesar 68.885 hektar yang terbagi 28.250 hektare atas tanah sawah, pertanian bukan sawah 16,916 hektar, dan bukan Pertanian 23,719 hektar. Menurut pria yang didorong warga desanya untuk maju dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Magetan 2018 ini, secara matematika menunjukkan angka kemiskinan di Kabupaten Magetan disumbangkan oleh keluarga petani.

Data BPS itu, tak dipungkiri, sangat kontroversi jika dibandingkan dengan hasil komoditas tanaman bahan makanan, utamanya padi. Hasil panen tahun  2016 menunjukan terjadinya kenaikan signifikan sebesar 8,70% dari tahun 2015. Hasil panen 2016 sebanyak 3.370.713 kwintal, sementara tahun 2015 sebesar 3.101.112 kwintal. Kenaikan produksi padi itu diikuti produksi ubi kayu, jagung dan kacang tanah. Sementara ubi jalar, kedelai, dan kacang hijau pada 2016 mengalami penurunan dibandingkan 2015.

Sedangkan tiga jenis buah-buahan yang banyak dihasilkan adalah jeruk besar (176.507 kwintal), mangga (62.730 kwintal), dan pisang (49.637 kwintal). Demikian pula sayur-sayuran, antara lain kubis (299.140 kwintal), wortel (194.300 kwintal) dan bawang daun (91.720 kwintal). Peningkatan itu diikuti hasil ternak besar. Populasi ternak sapi mengalami kenaikan sebesar 2,36%. pada tahun 2016 dibanding tahun sebelumnya. Namun, kategori ternak kecil, seperti kambing mengalami penurunan 8,07%. Populasi ternak unggas yang mengalami peningkatan adalah itik, mentok, kelinci, dan ayam potong.

“Membandingkan data BPS tentang angka kemiskinan dengan hasil komoditas pertanian, saya yakin ada permasalahan mendasar terkait penduduk Magetan yang berstatus petani. Di saat hasil keringatnya meningkat, ternyata para petaninya tetap miskin. Permasalahan ini saatnya diselesaikan secara cepat dan tepat,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Energi Mineral (APEM) Kalimantan.

_____________________________________________________

“Membandingkan data BPS tentang angka kemiskinan dengan hasil komoditas pertanian, saya yakin ada permasalahan mendasar terkait penduduk Magetan yang berstatus petani. Di saat hasil keringatnya meningkat, ternyata para petaninya tetap miskin. Permasalahan ini saatnya diselesaikan secara cepat dan tepat,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Energi Mineral (APEM) Kalimantan.

_____________________________________________________

Satu-satunya solusi untuk menurunkan angka kemiskinan dengan mendongkrak taraf hidup keluarga petani sebagai keluarga sejahtera, dikatakan pria yang karib dipanggil Kang Suyat ini, diawali dengan memanfaatkan Pilbup Magetan 2018 untuk memilih calon bupati (cabup) yang cerdas, memiliki visioner yang tegas dalam membangun kesejahteraan masyarakat Magetan.

Karena itu, Kang Suyat berharap, masyarakat Magetan sudah saatnya bersikap cerdas dalam memanfaatkan hak pilihnya dalam pesta demokrasi Pilbup Magetan. Salah satunya dengan bersikap realitas dalam menilai seorang cabup yang diusung partai atau lewat jalur independen. Hanya memilih cabup yang sudah membuktikan empatinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan kekurangannya di bidang ekonomi.

“Untuk mengetahui seorang cabup tersebut memiliki empati pada masyarakat sekitarnya dan memiliki visinoner yang jelas, sebenarnya sangat gampang. Cukup melakukan cek sound saja pada warga desa asal cabup. Demikian pula sepak terjangnya di masyarakat. Insya Allah masyarakat langsung memiliki penilaian sosok cabup yang layak dipilih dan dicoblos,” kata pria yang sejak dua tahun lalu mengajak para pemilik lahan menganggur di sekitar Magetan untuk menanam pohon sengon dengan pemodalan yang dikucurkan. Sebuah kesepakatan untuk mendongkrak perekonomian keluarga.

____________________________________________________________________________

“Untuk mengetahui seorang cabup tersebut memiliki empati pada masyarakat sekitarnya dan memiliki visinoner yang jelas, sebenarnya sangat gampang. Cukup melakukan cek sound saja pada warga desa asal cabup. Demikian pula sepak terjangnya di masyarakat. Insya Allah masyarakat langsung memiliki penilaian sosok cabup yang layak dipilih dan dicoblos,” kata pria yang sejak dua tahun lalu mengajak para pemilik lahan menganggur di sekitar Magetan untuk menanam pohon sengon dengan pemodalan yang dikucurkan. Sebuah kesepakatan untuk mendongkrak perekonomian keluarga.

___________________________________________________________________________

Tidak demikian, saat masyarakat Magetan memilih cabup hanya berdasar pada popularitasnya sebagai birokrat, politisi, atau pengusaha. Mengutip pendapat ulama budayawan Emha Ainun Najib, saat masyarakat sebuah daerah memilih kepala daerahnya berdasar pada kepopulerannya, maka sebuah perbaikan terhadap kesejahteraan masyarakat pemilihnya peluangnya kecil terjadi. Ini karena kepopuleran seseorang dapat dibentuk oleh media dengan memasang iklan atau advetorial.

“Pemimpin daerah yang dipilih lantaran kepopulerannya, biasanya setelah menjabat akan lupa dengan rakyat yang memilihnya. Pemimpin model ini biasanya sibuk membalikkan modal untuk menjadi kepala daerah. Saat modalnya balik tetap lupa pada rakyat, karena sibuk menambah keuntungan mumpung masih menjabat,” kata pria kelahiran Jombang ini.

Karena itu, Emha menegaskan, bahsa semua rakyat saatnya menggunakan hak pilihnya dengan cerdas dan tepat. Pilih kepala daerah yang memiliki latar belakang berempati pada rakyat, dengan tolok ukur sepak terjang sebelumnya walau bukan pejabat daerah. Calon kepala daerah yang belum memiliki catatan kebaikan pada rakyat, hendaknya gak usah dicoblos. Beri kesempatan para calon-calon tersebut untuk menunjukkan rasa kasihnya pada rakyat dulu, baru pada Pilkada 2024 dipertimbangkan untuk dicoblos atau tidak dicoblos lagi.@  Judul asli :  Magetan Butuh Bupati Cerdas

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares