Kisah Abah Guru Sekumpul yang Kada Mau Disusui di Depan Umum, Saat Bayi Mengisap Lidah Ulama

Suara Kaltim – BERTEPATAN dengan kedatangan tentara Nippon Jepang Tahun 1942 ke Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalsel . Cerita bermuasal dari kota ini, pada masa penjajahan di era Perang Dunia II.  Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani terpaksa mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya, Masliyah, yang tengah hamil tua,  dapat melahirkan bayinya dengan selamat.

Kedua orangtua Abah Guru Sekumpul, Syeikh Abdul Ghani & Hj Masliyah. foto istimewa

Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu mertuanya (Salbiyah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai. Jukung ini menuju Desa Tunggul Irang Seberang, ke sebuah rumah, milik salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah. Rumah si paman ini kebetulan berdampingan dengan rumah Tuan Guru H Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang yang terpandang dan disegani oleh pihak manapun.

Meskipun Masliyah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

Dipilihnya Desa Tunggul Irang Seberang sebagai tempat untuk berlindung adalah karena dianggap paling aman di saat itu. Selama masa Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H Abdurrahman) tinggal dan dibesarkan di Desa Tunggul Irang tersebut, tentara kolonial tidak pernah menginjakkan kakinya di desa ini.

Baca Juga :  Detik-detik Terakhir Sebelum Ditabrak Kapal, Acil Ulun Tawassul Kehadirat Guru Sekumpul

Sebab setiap kali akan menuju desa tersebut, selalu saja mendapat halangan dan rintangan yang tidak terduga, sebagaimana beberapa kali perahu tentara Belanda yang akan melewati Desa Tunggul Irang selalu saja kandas dan tenggelam, dengan alasan yang tidak dimengerti oleh mereka.

TIDAK MENANGIS SAAT DILAHIRKAN

Baru beberapa hari tinggal di Desa Tunggul Irang Seberang, tibalah waktunya Masliyah akan melahirkan anaknya. Di kala malam bertambah larut, waktu yang terbaik untuk munajat kepada Sang Khalik, ketika angin bertiup lembut, Masliyah melahirkan bayinya yang pertama.

Malam itu, tepatnya Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan 11 Februari 1942 M, seorang bayi laki-laki mungil lagi montok telah lahir, berkat bantuan seorang bidan yang bernama Datu Anjang. Beliau adalah nenek Tuan Guru Husein Dahlan yang merupakan sepupu dua kali dengan Masliyah.

Sekalipun kehadiran bayi tersebut di malam hari yang kelam, sekelam dan sepekat nasib negeri dan bangsa ini ketika itu, namun betapa bahagia dan bersyukurnya sang ayah, apalagi bagi sang ibu yang telah mengandungnya selama lebih sembilan bulan lamanya.

Sungguh di luar dugaan, bayi yang baru lahir di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, seharusnya terjaga akibat mendengar tangisannya, sebagaimana layaknya bayi-bayi lain yang baru lahir, ternyata sang bayi tidak menangis, hanya diam tidak sedikitpun mengeluarkan suara.

Matanya tertutup, seperti tidak ada tanda kehidupan. Kejadian itu berlangsung selama hampir satu jam lamanya. Warna kulit badannya sudah mulai membiru. Berbagai macam usaha sudah dicoba, namun bayi itu masih diam, tak ada jerit tangis, sampai-sampai neneknya Salbiyah yang juga hadir saat kelahiran bayi tersebut berkata :
Mati jua cucuku…?”

KH Abdurrahman alias Tuan Guru Adu, Tunggul Irang. foto istimewa

Bayi yang keadaannya membuat cemas itu kemudian dibawa pergi ke rumah Tuan Guru H Abdurrahman untuk mendapatkan pertolongan. Setibanya di hadapan Tuan Guru H Adu, bayi tersebut dipeluk dan ditiupi beliau dengan do’a-do’a, hingga akhirnya samar-samar mulai tampak tanda-tanda kehidupan.  Nafas sang bayi mulai turun naik, warna kulitnya berangsur-angsur menjadi kemerah-merahan, dan tangisnya pun mulai terdengar.

Sejak tangis sang bayi sudah mulai terdengar, syukur dan puji dihaturkan keharibaan Allah yang Maha Kuasa, sebab Dia-lah yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan, Dia-lah yang merubah dari gelap menjadi terang. Bayi yang tangisannya mulai terdengar, pertanda haus dan lapar telah merasuki perasaannya, maka sang bayi pun diserahkan kepada ibunya yang akan menyusuinya, membelainya dengan sentuhan lembut, serta memberikan perhatian dengan kasih dan sayang.

Bayi yang berada dalam pelukan ibunya terus menangis, hingga keluarga yang hadir ikut berusaha untuk membuatnya terlena dalam pangkuan ibunya. Ibunya berusaha memberikan air susu. Namun tetaplah bayi tersebut menangis. Begitulah seterusnya, bayi tersebut selalu menolak saat diberikan air susu ibunya, apalagi minuman lain. Setelah berjam-jam menangis, bayi yang baru lahir tersebut akhirnya dibawa lagi kepada Tuan Guru H Adu untuk meminta kembali bantuan beliau.

DISUSUI TANPA DILIHAT ORANG

Sesudah diterima kembali oleh beliau bayi yang masih menangis itu di pangkuannya, beliau menjulurkan lidahnya ke mulut bayi. Maka bayi itupun menghisap lidah beliau dengan lahapnya, seakan-akan ia menyusu kepada ibunya.

Setelah ia puas menghisap lidah Tuan Guru H. Adu, maka lidah itupun dilepasnya, sehingga berhenti pulalah tangisan sang bayi. Kejadian seperti ini berulang-ulang sampai akhirnya tertidur pulas. Melihat itu, ibu si bayi merasa tenang.

Abah Guru Sekumpul saat mestasmiyahi seorang anak 2 Jan 2012 di Martapura. foto istimewa

Menurut penuturan Abah Guru Sekumpul pada sebuah pengajian di Sekumpul,  mengutip kata ibunda beliau, sejak mengisap air liur Tuan Guru H Adu itu, beliau tetap merasa kenyang, sehingga sanggup tidak menyusu selama 40 hari.

Suatu ketika Masliyah mencoba menyusui anaknya di dalam kamar yang tertutup, tanpa ada orang yang melihat. Tak disangka bayi itu mulai menghisap susu ibunya. Maka mengertilah Masliyah bahwa bayinya tersebut seakan-akan enggan menyusu bila dilihat oleh orang lain. Sang bayi sepertinya berusaha memelihara ibunya dari membuka aurat di hadapan orang lain.

MENEMBUS BARIKADE JEPANG TANPA TERLIHAT

Sekitar dua minggu setelah kelahiran Putra pertama , sang bayi mungil yang diberi nama Muhammad Qusyairi, Abdul Ghani (ayah Abah Guru Sekumpul) berkeinginan memboyong kembali keluarganya ke kampung  asalnya di Keraton Martapura,  kurang lebih satu kilometer dari Desa Tunggul Irang Seberang.

Keraton yang telah ditinggalkan berbulan bulan, menyirat kerinduan Abdul Ghani terhadap kampung kelahirannya.  Ini kampung yang sesungguhnya sangat damai dan tenang. Namun kedatangan  tentara kolonial Dai Nippon atau tentara Jepang lah yang membuat  Abdul Ghani dan keluarganya harus meninggalkan Keraton dan mengungsi ke rumah Paman Abdullah,  di Tunggul Irang. 

Malam itu terasa amat mencekam.  Informasi yang sampai ke telinga keluarga Abdul Ghani, menyatakan bahwa kota Martapura malam itu dijaga ketat tentara Jepang, beberapa ruas jalan diblokir.  Lebih dari itu mereka juga memberlakukan jam malam, mengultimatum warga agar jangan keluar malam hari. Siapapun yang melanggar akan tembak di tempat.

Kunjungan resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda MrDirk Fock ke Martapoera tahun 1924. foto istimewa

Namun tekad dan niat bulat Abdul Ghani seakan membuyarkan semua itu.  Apalagi untuk menuju kampung Keraton, ia sekeluarga menggunakan mobil butut atau mobil jamban milik seseorang.  Mobil dikemudikan Habib Hasan, seorang Sayyid yang tinggal di Tunggul Irang.  Meski diliputi rasa khawatir, namun Abdul Ghani dan keluarga kecilnya merasa tenang dengan bekal doa dan restu Tuan Guru H Adu.

Sesampai di kota Martapura, nampak ketatnya barikade dan penjagaan tentara Jepang. Tentara bermata sipit itu terlihat siaga memantau keadaan, segala akses jalan seakan tidak bisa ditembus. Jalan-jalan tampak lengang  Tidak seorang pun penduduk Martapura yang berani melanggar ultimatum. Siapapun tahu, tentara Jepang tidak main main.

Sementara itu, mobil yang ditumpangi keluarga Abdul Ghani pun terus meluncur, tanpa memperdulikan penjagaan ketat itu. Semua wajah di mobil tegang, khawatir jika sewaktu-waktu disetop Jepang.  Namun keajaiban terjadi, barisan tentara Jepang itu sama sekali tidak memperdulikan mobil Abdul Ghani lewat. Barikade tentara Jepang itu pun bisa dilewati tanpa insiden. Dan Abdul Ghani pun bisa bernapas lega hingga tiba di kampung Keraton.

Baca Juga :  Ujar Ustadz Arifin Ilham, Ada Satu Ulama Banua yang Istiqomah Duduk Mengaji dengan Guru Sekumpul

Mungkin yang sangat berkesan justru masyarakat Desa Tunggul Irang Seberang itu sendiri. Bahwa desa mereka ditakdirkan oleh Allah Yang Maha Kuasa menjadi persada bagi kelahiran seorang putra yang mereka kenal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana namun bermartabat serta berbudi. Sebagaimana masyarakat Islam, baik di dalam maupun di luar negeri mengenalnya di kemudian hari sebagai “Al al-‘Alimul ‘Allamah Al ‘Arif billah As Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani” dari Martapura.

Sumber tulisan : Buku : 100 Karamah dan Kemuliaan Abah Guru Sekumpul (oleh KH M Anshary El Kariem).

Dengan sedikit editing & pengayaan dari admin ayooha.com

Kada (Bahasa Banjar = Tidak

 

BACA JUGA : 

Rahasia di Balik Wangi Tubuh Abah Guru Sekumpul yang tidak Pernah Hilang

12 Karomah Abah Guru Sekumpul

 

 

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares