Header Image

Ini 5 Puisi Balasan Atas Puisi Sukmawati Soekarno Putri, Seperti Menohok Ke Jidat

Ini 5 Puisi Balasan Atas Puisi Sukmawati Soekarno Putri,  Seperti Menohok Ke Jidat

SUARAKALTIM.com –Sukmawati lagi dibicarakan. Terutama puisinya. Bukan karena baiknya. Tapi karena buruknya. Di media sosial nitizen ramai-ramai mengutuk dan menghujatnya. Puisi yang dibacakannya kontraversial dan dianggap melecehkan Islam.

Puisi karyanya tersebut ia bacakan dalam pagelaran peragaan busana Anne Avantie pada Kamis, (29/3/2018).

Sukmawati Soekarnoputri dianggap menyinggung perihal syariat Islam, cadar, dan suara adzan.

Berikut isi dari puisi berjudul “bu Indonesia” karya Sukmawati Soekarnoputri:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Setelah puisi Sukmawati ini jadi viral bermunculan puisi-puisi balasan dari warganet.

Penggiat medsos, Felix Siauw misalnya;

Ia memposting puisi berjudul ‘Kamu Tak tahu Syariat’.

Kamu Tak Tahu Syariat

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti

Bila engkau mau mengkaji, engkau akan memahami bahwa hijab itu bukan hanya pembungkus wujud, tapi bagian ketaatan, sebagaimana saat engkau ruku dan sujud

Engkau juga akan mengerti, bahwa membandingkan konde dan cadar itu perkara menggelikan, sebab yang satu ingin terjaga, yang lain malah mengumbar

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, hal paling pintar yang engkau lakukan adalah diam. Sebab bicara tanpa ilmu itu menyesatkan, berjalan tanpa pelita di gelap malam

Pastinya juga engkau tak tahu bahwa negeri ini dibangkitkan darah perlawanannya oleh kalimat takbir, yang enam kali dilantangkan dalam azan yang engkau tuduh tak lebih merdu dibanding kidung ibu

Tanpa Islam tak ada artinya Indonesia, maka dimulakan negeri ini dengan “Atas berkat rahmat Allah”. Islam adalah ruh Indonesia, nyawa Indonesia

Takkan berdaya wanita Indonesia tanpa Islam, yang telah menuntun mereka dari gelapnya penjajahan menuju cahaya kemerdekaan. Dari sekeder pelengkap jadi tiang peradaban

Dan kini aku menggugat dirimu, mempertanyakan dirimu, siapa kamu sebenarnya? Mengapa cadar dan azan begitu mengganggu dirimu, membuat engkau resah? Yang kutahu, hanya penjajah yang begitu

Tak paham konde, tak mampu berkidung, tak jadi masalah. Tapi tak tahu syariat mana bisa taat? Tak Indonesia tetap bisa menghuni surga, tak Islam maka tak ada lagi penolong di satu masa yang tak ada keraguan di dalamnya

Kalau engkau tak tahu syariat. Mari sini ikut melingkar dan merapat. Akan aku sampaikan biar engkau pahami, bagi mereka yang beriman, tak ada yang lebih penting dari Allah dan Rasul-Nya

Cc @yukngajiid @hijabalila

Puisi balasan juga diciptakan sastrawan asal Sulawesi Selatan bernama Andhika Mappasomba.

Andhika menulis puisi berjudul ‘Kepada Ibu Sukma JA’

Kepada Ibu Sukma JA
.
Anda benar Bu
kidung lebih Indah dari azan, demikian konde lebih indah dari cadar
sebab Ibu pakai kaca mata rayban menyelam di kedalaman palung keAlpaan pada agama
.
Anda benar Bu
tidak salah yang Ibu bilang
azan yang keluar paksa dari speaker yang usang melentingkan suara yang tak merdu jika didengarkan dengan telinga pembenci agama
.
Ibu memang benar
Indonesia memang indah
lalu rusak mendengar puisi kanak-kanakmu
.
Terima kasih putri sang fajar, Ibu Sukma tanpa empati, Ibu tanpa otak di lututnya. karenamulah kami tahu, nama besar kadang hanyalah kaleng kosong berdenting nyaring. kecerdasan bukanlah warisan di dalam darah tapi pada buku bacaan dan guru yang baik.
.
Terima kasih Ibu
Islam jadi kuat dan bersatu karena puisi kanak-kanakmu yang selalu bertanya-tanya Tuhan tinggal di mana?
.
Terima kasih Ibu Sukma, dari puisimulah aku sadar, tembang memang lebih indah dari azan, sebab rumah bernyanyi dan diskotik lebih ramai dari masjid
.
nakke tenaja kusambayang
nakke tenaja kuppuasa
.
Tapi jika masjid kau lempari batu,
mati pun aku siap membela nama baik agamaku! walau seribu puisi nyinyir dari mulut nenek tua tak paham agama, macam puisimu kau bacakan berkalikali padaku itu
.

Gowa-Makassar, 03.04.2018,

Puisi balasan juga ditulis seorang pemuda bernama Muhammad Novriandi.

“Untuk Nenek Yang Disana”

Wahai nenek yang disana

Ku simak celotehan puisi mu
Berdebar dada ku tak menentu
Bergejolak amarah ku seolah-olah memburu
Kerana mendengar rangkaian kata-kata hantu

Wahai nenek yang disana

Ketika jeri-jemari bergerak kesini kesana
Merangkai kata-kata
Sadarlah diri seharusnya
Bahwa jari-jemari adalah ciptaanNya

Ketika suara dilepaskan ia bagaikan anak panah
Pabila salah arah
Akan terjadi angkara murka

Wahai nenek yang disana

Syari’at islam dan azan kau tak tahu
Bagaimana mungkin engkau tahu
Sedangkan engkau tak mau tahu
Benar kata Al ghazali sang imam itu
Engkau tidak tahu bawah kau tak tahu
Sehingga kau sok tau

Sesekali berkacalah
Lihatlah dirimu
Garis dan keriput adalah pertanda
Pertanda umur sudah senja
Pertanda diri sudah bau tanah

Jangan kau kira kerena keturunan kau berkuasa
Sehingga kau bebas leluasa
Bukankah Nuh nabi yang mulia
Tapi anaknya masuk neraka

Wahai nenek yang disana
Hidup di dunia bagaikan fatamorgana
Hanyalah semu pandangan mata
Semua kita akan kembali kepada Nya

Nek, aku bukan orang yang suci
Bukan pula ahli ibadah
Namun aku sadar diri
Takkan pernah agama ini ku hina

Muhammad Novriandi
Putussibau, 2 April 2018

Puisi balasan Dhika Margadewa juga tak kalah menohok berjudul ‘Tak Apa’

TAK APA
(Balasan utk puisi Ibu Sukmawati Soekarnoputri yg berjudul: Ibu Indonesia)

Tak apa kau tak tahu syariat islam
Tak apa kau katakan;
Sari konde ibu Indonesia
Lebih indah daripada cadar
Karna cadar bukan hiasan
Tapi tanda taat seorang muslimah kepada Sang Khalik
Sebagaimana taatnya seorang hamba untuk ruku dan sujud

Tak apa kau katakan;
Kidung Nusantara lebih merdu daripada suara adzan
Karna adzan bukanlah nyanyian
Adzan panggilan bagi jiwa-jiwa yang beriman
Tak apa kau tahu syariat islam
Asal jangan kau lupa
Suara adzan tlah mampu bangkitkan semangat para pejuang 
Melawan penjajah negeri ini
Dan jangan kau lupa pula
Bung Karno mengatakan;
Atas berkat rahmat Tuhan
Negeri ini merdeka
Tak apa kau tak tahu syariat islam
Karna ku yakin
Ketika tiba waktunya
Kau butuhkan syariat islam
Untuk berjumpa dengan-Nya…

Anggota DPRD Sulsel dari fraksi PKS Sri rahmi juga tak ketinggalan menyentil Sukmawati lewat puisinya berjudul ‘untuk perempuan berkonde’.

Kepadamu, Perempuan Berkonde! 
Kau tau cerita tentang neraka?
Jika kau belum tau,
Dengarkanlah aku…
Di sana, kau akan dijambak sekeras yang tak pernah kau rasakan
Di sana, kau dibakar hidup-hidup
Disulut api yang panasnya mengerikan
Di sana, kau akan melihat kondemu menggantung lehermu
Dan kau menjerit melolong
Kau kehilangan kata-kata puisimu

Hai kau, perempuan yang tidak tau syariat!
Aku akan menceritakan padamu 
Tentang malaikat Malik. 
Penjaga neraka yang selalu taat pada penciptaMU
Seram tanpa senyum
Kemarahan tak terhingga dari wajahnya
Karena gerai kondemu yang lepas
Dan aku yakinkan,
Karenanya, kau menyesali suara adzan yang kau abaikan. 
Hai kau perempuan, yang bicara tanpa sopan santun!

Aku kabarkan padamu
Jaga lidahmu
Yang akan dirajam Malik karena huruf-huruf menjijikkan yang kau rangkai
Membuyarkan kedamaian
Mengusik persatuan
Memporak ketenangan
Lidahmu…
Penamu…
Mengantarmu ke jahannam. 
Hai perempuan, yang berkonde! 
Kau tidak berhak marah atas kemarahanku
Karena ini tentang keyakinanku, yang kau tak tau apa-apa. 
Kau tidak berhak menghujat atas hujatanku padamu 
Karena ini tentang hujjahku di hadapan Tuhanku
Tentang tanggungjawabku
Membela yang kau hina.

Jika kau tak suka, diamlah!
Jika kau tak tau, belajarlah! 
Jangan umbar kebodohanmu dalam kata
Dan kau berdalih, ini tentang budaya?? Aku perempuan, yang mendukung perempuan Indonesia
Aku perempuan, yang mencintai perempuan Indonesia 
Aku perempuan, yang membanggakan perempuan Indonesia,
Tapi bukan kamu. 
Makassar, 17 Rajab 1439 H 
Makassar, 3 April 2018

sk-007/tribunnews/editor: Ilham Arsyam

Facebook Comments

Comments (0)

Leave a Reply

shares