SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Batu Nisan Makam Menak Sopal Trenggalek Hilang Misterius

Wednesday, 23 January 2019 | 10:56 am | 194 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
PropellerAds
FOTO. Makam Menak Sopal yang hilang di bagian kakinya. Foto faktualnews.co/Suparni/PB/
 
 

TRENGGALEK, WWW.SUARAKALTIM.COM – Batu nisan (maesan) makam Menak Sopal, salah satu tokoh pendiri Kabupaten Trenggalek sekaligus dikenal sebagai pahlawan pertanaian di bagian kakinya, di komplek makam umum Bagong, Kelurahan Ngantru, Kecamatan/ Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, hilang.

Kejadian tersebut diketahui pada Minggu (20/1/2019) oleh para kelompok pemerhati sejarah. Selain maesan yang bertuliskan tanggal lahir dan wafat atau biasa disebut sengkolo serta terdapat ukiran bahasa arab yang hilang, juga karpet, tumbu dan buku tamu.

Hosting Unlimited Indonesia

Juru kunci makam Menak Sopal, Ma’im mengatakan, hilangnya maesan tersebut terjadi pada malam hari dan diperkirakan pada Sabtu malam. Karena sebelumnya maesan itu masih ada.

“Dari jejak kakinya yang mengambil maesan ini memakai sepatu, karena bekasnya sangat jelas. Dan diperkirakan pelaku melompat pagar makam dari sebelah utara, kemudian masuk. Tidak hanya maesan yang diambil, melainkan karpet, tumbu dan buku tamu,”ucapnya Senin (21/1/2019).

Ditambahkan, terkait hilangnya maesan makam Menak Sopal di bagian kaki, pihaknya sudah melapor ke Kekelurahan setempat dan selanjutnya ke Disparbud dan Kecamatan Trenggalek.

Sementara Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Surjono membenarkan bawasannya maesan makam Menak Sopal dan makam disebelahnya telah hilang. Anehnya maesan yang diambil tersebut hanya dibagian kakinya saja.

“Maesan makam Menak Sopal yang hilang itu di bagian kakinya, karena pada maesan tersebut terdapat tulisan tanggal lahir dan wafat atau sengkolo serta berukiran bahasa arab,”terangnya.

Disampaikan Surjono, terkait hilangnya dua buah maesan tersebut, pihaknya mendapat informasi dari pemerhati kelompok sejarah pada Minggu (20/1/2019). Kemudian kelompok pemerhati sejarah kita arahkan untuk melaporkan ke juru kunci. Karena itu nanti yang berhak melaporkan ke pihak berwajib adalah juru kuncinya.

Hosting Unlimited Indonesia

“Kemarin juru kuncinya juga sudah kita ajak koordinasi, dengan diarahkan untuk laporan ke kelurahan dan kecamatan serta kepolisian. Dan saat ini langkah dari kami sudah dilaporkan ke Provinsi, selanjutnya juga akan dilaporkan pula ke Balai Arkeologi (Balar) oleh Bupati melalui tembusan,” pungkasnya.

Ditambahkan, benda yang hilang tersebut merupakan milik negara dan dilindungi. Pada kasus hilangnya maesan ini, yang jelas jika pelaku tertangkap yang akan terkena sanksi berat.

Kisah Legenda Ki Ageng Menak Sopal, Penyebaran Agama Islam di Trenggalek

 

Kisah Legenda Ki Ageng Menak Sopal, Penyebaran Agama Islam di Trenggalek

 

Nama Ki Ageng Menak Sopal memang sudah tak asing bagi warga Trenggalek, Jawa Timur. Selain seorang pemuka agama, beliau juga dianggap pahlawan bagi para petani.

Cerita Menak Sopal banyak versinya, untuk itu tim penggali data berusaha menggabungkan cerita itu. Sehingga mudah untuk dipergunakan sebagai sumber dalam penelitian sejarah Trenggalek.

Menurut keterangan Ichwan Supardi BA almarhum (anggota team), cerita Menak Sopal ini mempunyai dua versi, yakni versi barat dan versi timur.

Dan sumber cerita ini diambil dari Sarni Wiryodiharjo mantan Kepala Penerangan Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Jawa Timur dan sumber lain berasal dari Soepingi almarhum mantan Kepala Desa Ngantru Kecamatan/Kabupaten Trenggalek.

Berawal, penyebaran agama islam secara intensif sejak zaman para wali yang didukung oleh kerajaan Kesultanan Demak. Penyebaran agama islam di Trenggalek dilakukan secara halus dan hati-hati.

Sampai saat ini, belum ditemukan dokumen tertulis yang menyebutkan tentang penyebaran agama islam di Trenggalek. Hanya ditemukan cerita rakyat yang sangat terkenal serta diceritakan secara lisan dan turun temurun utamanya tentang tokoh Menak Sopal.

Sedangkan untuk menyusun sejarah lokal, maka cerita rakyat atau dongeng (folk-lore) tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Memang harus dipisahkan antara sejarah dan cerita rakyat atau dongeng banyak versi tentang cerita Menak Sopal.

Tetapi pada dasarnya, isinya tetap sama. Biasanya cerita semacam ini dihubungkan dengan nama-nama serta tempat dimana cerita itu berkembang.

Menurut Sahibul Hikayat, ada seorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau bisa disingkat Ki Ageng Galek. Sering kalau kita bicara tentang Mataram, selalu dihubungkan dengan Kerajaan Mataram Islam.

Sedangkan yang dimaksud dengan Mataram dalam cerita Menak Sopal ini tidak demikian, sebab Mataram yang dimaksud di sini adalah Mataram wilayah milik Majapahit.

Hal ini dibuktikan dari kitab negara Kertagama Pupuh VI bait 3 yang menyebutkan antara lain ‘Haji Raja Ratu Ing Mataram Iwir Yang Kumara Nurun,’ Artinya raja di Mataram, laksana Dewa Kumara datang dibumi.

Penulis pada pernyataan yang terdahulu menyebutkan, bahwa Mataram dicerita ini adalah Mataram pada zaman Majapahit. Sebab dalam cerita itu dinyatakan bahwa Ki Ageng Nggalek ditugasi memelihara seorang putri dari Majapahit yang bernama Amiswati atau Amisayu.

Pada saat itu, kaki putri yang berpenyakit luka-luka dan berbau amis atau busuk. Ki Ageng Galek merasa bingung dalam melaksanakan tugas ini. Sebab semua obat telah dipergunakan, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Karena bingungnya kemudian Dewi Amisayu diminta mandi di Sungai Bagongan yang sekarang terletak di Kelurahan Ngantru Trenggalek. Karena merasa malu dan sedih, maka putri Amisayu mengucap sayembara.

Bahwa siapa saja yang dapat menyembuhkan luka-lukanya, bila wanita akan di anggap saudara dan bila pria akan dijadikan suaminya. Berita itu rupaya terdengar oleh raja dari seluruh buaya yang berkulit putih bernama Menak Sraba dan bertahta di Lubuk atau Kedung Bagongan.

Kata buaya mengandung lambang bahaya. Sedangkan putih adalah lambang kesucian atau kesucian dari agama. Sedangka kata Menak biasa dipakai oleh golongan priyayi atau pejabat pada zaman Islam utamanya dari suku Sunda yaitu golongan bangsawan. Atau ingat cerita Menak Jayeng Rana, Menak Jengga, Menak Koncar, mereka ini lahir sesudah Mataram menjadi kerajaan Islam.

Jadi Menak Sraba adalah pimpinan umat Islam disekitar Trenggalek. Sedangkan Kedung atau Lubuk artinya dalam. Jadi Menak Sraba yang berasal dari Kedung berarti pimpinan umat Islam yang berasal dari pedalaman.

Menak Sraba yang berwujud buaya putih berubah menjadi manusia dan berwajah tampan juga rendah diri. Hal ini tampak didalam cerita itu, ketika Menak Sraba mengobati luka-luka Dewi Amisayu dengan cara menjilati luka dikaki Sang Dewi.

Menak Sraba akhirnya berhasil menyembuhkan Dewi Amisayu. Berkat tindakan itu, Ki Ageng Galek mau menerima Menak Sraba sebagai anggota keluarganya dan mengawinkannya dengan Dewi Amisayu.

Sumber : faktualnews.co

Hosting Unlimited Indonesia

Leave a Reply