Header Image

2.000 Penari Hudoq Maluhu akan pecahkan Rekor Muri, Rekor Sebelumnya Samarinda dengan 1000 Penari Hudoq

2.000 Penari Hudoq Maluhu akan pecahkan Rekor Muri, Rekor Sebelumnya Samarinda dengan 1000 Penari Hudoq

Kepala Dinas Pariwisatan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mahulu Kristina Tening (Antaranews Kaltim/M.Ghofar)

UJOH BILANG, www.suarakaltim.com – Sebanyak 2.000 penari Hudoq ditargetkan memecahkan rekor pada Museum Rekor Indonesia (Muri) dalam Festival Hudoq yang akan digelar di Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, pada 23-28 Oktober 2018.

“Untuk proses administrasi terkait pemecahan rekor sudah kami urus dengan manajemen Muri, jadi kita tinggal menunggu realisasinya,”ujar Kepala Dinas Pariwisatan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mahulu Kristina Tening di Ujoh Bilang, Senin (20/8).

Sebanyak 2.000 Penari Hudoq tersebut akan hadir dari puluhan kampung yang tersebar di lima kecamatan. Ia optimistis target 2.000 penari itu akan terpenuhi, bahkan bisa melebihi target karena rata-rat kampung di Mahulu mengembangkan seni budaya yang salah satunya adalah hudoq.

Selama ini, katanya, rekor Muri yang terpecahkan adalah ketika digelarnya Tari Hudoq di Samarinda pada November 2017 dengan jumlah 1.000 penari, sehingga pihaknya optimistis tahun ini mampu mencetak rekor Muri karena jumlahnya di atas dari rekor yang dipecahkan oleh Samarinda.

Ia juga mengatakan bahwa rangkain Festival Hudoq dimulai dari persiapan pondok dengan konsep tradisional yang dilakukan di Lapangan Ujoh Bilang pada 23 Oktober.

Kemudian menugal bersama tanggal 24 Oktober, sekaligus sajian 2.000 luku (lemang – makanan dari ketan) yang juga ditargetkan untuk memecahkan rekor Muri, selanjutnya Parade Hudoq sepanjang Sungai Mahakam pada 25 Oktober.

Kegiatan berikutnya adalah malam pagelaran seni tanggal 26, lomba kuliner khas Mahulu, lomba olahraga tradisional, live performance Uyau Moris tanggal 27, dan acara penutupan dilakukan pada 28 Oktober.

Ia juga mengatakan, festival ini dipastikan mampu menyedot ribuan orang yang hadir di Ujoh Bilang, sehingga tempat menginap peserta dan tamu menjadi hal yang dipikirkan secara matang, maka pihaknya memiliki tiga pilihan terkait pemondokan ini.

Pertama adalah pemondokan untuk peserta yang dikonsentrasikan di pinggir lapangan Ujoh Bilang, yakni dengan membuat pondok tradisional beratap kajang. Pondok ini sekaligus sebagai pemanis lapangan karena menonjolkan khas daerah.

“Sedangkan untuk tamu dan undangan, terdapat dua pilihan yang kami arahkan, yakni di penginapan yang sudah ada, kemudian menempati rumah penduduk (home stay). Semua ini sudah kami data baik home stay di Ujoh Bilang, Long Bagun, maupun di Kampung Batu Majang,”ucap Tening. sk-008/antara

Leave a Reply

shares