JAKARTA, SUARAKALTIM.COM – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memaparkan sepuluh agenda prioritas nasional yang disiapkan untuk menghadapi industri  4.0 di Indonesia di Pavilion Indonesia dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) 2019 di Davos, Swiss.

Hosting Unlimited Indonesia

“Upaya untuk menghidupkan kembali sektor produksi manufaktur Indonesia ini diyakini mampu memberikan nafas baru di bidang ekspor hasil industri manufaktur,” kata Airlangga lewat keterangan resmi seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat (25/1).

Pada pembahasan dilakukan santai sembari ngopi bersama tersebut, Airlangga berharap industri manufaktur 4.0 memberikan kontribusi bersih sebesar 10 persen terhadap angka ekspor nasional.

Selain itu, mampu menghemat biaya produksi yang berimbas pada peningkatan hasil produksi, dan juga mampu membiayai pengembangan inovasi dan kemampuan setempat. 

Upaya ini dilakukan untuk mencapai target industri manufaktur 4.0 sebagai salah satu penghasil devisa utama negara di tahun 2030.

Terdapat 5 sektor yang ditargetkan menjadi percontohan implementasi untuk industri 4.0 di Indonesia, diantaranya adalah industri manufaktur makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian jadi, industri otomotif, industri elektronik, dan industri kimia. 

Untuk sektor industri manufaktur, Indonesia sendiri telah menetapkan 10 prioritas nasional menuju Indonesia 4.0.

Hosting Unlimited Indonesia

Kesepuluh prioritas tersebut adalah mereformasi sumber material demi meningkatkan penggunaan bahan dasar domestik, menata ulang zona industri, membuka kesempatan yang lebih banyak, serta memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Kemudian, membangun infrastuktur digital nasional, mengajak investor asing untuk masuk ke Indonesia, meningkatkan kapasitas SDM, membangun ekosistem inovasi, insentif dalam investasi teknologi, dan mengoptimalisasi peraturan dan kebijakan. 

Pada 2019 ini, Kementerian Perindustrian juga akan meluncurkan Indonesia Industry Readiness Index (INDI 4.0) dan menguatkan pendampingan dan training para pelaku industri di berbagai level. 

Peningkatan kapasitas SDM juga dilakukan dengan memperkuat penguasaan teknologi, melalui peningkatan akses pendidikan salah satunya melalui pendidikan vokasi. Targetnya adalah mencapai 1 juta tenaga kerja bersertifikat di 2020.