SUARA KALTIM
SUARA KALTIM SUARA KALTIM

Komikus Jepang Ini Gambarkan Jokowi Bagai Pengemis, Padahal Justru Jepang dan Cina yang Saling Berebut Indonesia

Sunday, 25 February 2018 | 10:42 pm | 262 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       
 
 

JAKARTA, (SUARAKALTIM.com – Baru-baru ini komikus Jepang, Onan Hiroshi membuat gempar dunia maya Indonesia karena menyindir proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang dibangun oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hiroshi menyindir proyek yang dilakukan groundbreaking Januari 2016 lalu lewat coretan gambar di sebuah komik digital.

Hiroshi menceritakan bagaimana awal dari rencana pembangunan kereta cepat tersebut dibangun oleh Jepang. Pihak Jepang sudah melakukan studi terkait rencana pembangunan mega proyek tersebut.

Hasil studi Jepang kemudian diserahkan ke Indonesia. Akan tetapi, data tersebut justru diberikan kepada China yang kemudian diberikan wewenang membangun proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta-Bandung.

Dok. @hiroshionan

Dok. @hiroshionan

Dalam komik tersebut juga digambarkan bahwa pihak China dipilih karena menawarkan proyek dengan nilai yang jauh lebih murah dibandingkan Jepang.

Namun, dua tahun berselang mega proyek ini tak kunjung menunjukan perkembangan yang berarti. Hiroshi menggambarkan Jokowi merayu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk membantu kelangsungan proyek tersebut lagi.

Dok. @hiroshionan

Dok. @hiroshionan

Akan tetapi, pihak Jepang pun tidak terima dengan permintaan tersebut. Pasalnya, pemerintah Indonesia sudah terlanjur memilih China sebagai kontraktor proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Sampai saat ini, unggahan Hiroshi di akun twitternya @hiroshionan sudah di-retweet 1.240 orang dengan 970 likes. Potongan komik digital tersebut juga ramai diunggah ke Facebook. Unggahan tersebut juga ramai diperbincangkan netizen.

Sayangnya Hiroshi kurang riset, sehingga komik yang dihasilkannya kurang akurat. Atau mungkin hanyalah pandangan pribadinya saja.

Memang benar bahwa pada 2013 lalu, Jepang sempat melakukan studi pembangunan kereta cepat di Indonesia. Ini pernah dimuat di laman detikFinance (Jepang Sempat Bikin Studi Pembangunan Kereta Cepat di Indonesia)

Rencana pembangunan Kereta Cepat ini makin panas seiring terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI. Tapi tak lama kemudian peta proyek brubah seiring dgn masuknya Cina. Negeri Tirai Bambu mencoba menarik perhatian Indonesia ketika pak Jokowi hadir pada pertemuan ke-22 KTT APEC di Beijing 10-11 Nov 2014.

Hal tersebut pernah dimuat di laman Liputan6 (Awali Blusukan Ke Tianjin, Jokowi Puji Penataan Kota)

Dalam kunjungan ini Jokowi merasakan secara langsung kereta cepat Beijing-Tianjin.

Bahkan, ada penandatanganan nota kesepahaman kereta cepat Jakarta-Surabaya 800 km antara China Railway Construction Corporation Limited dengan PT Resteel Industry Indonesia. Penandatanganan kerja sama dilaksanakan di acara Indonesia-China Trade Investment and Economic Forum di Beijing.

Hingga 2015, Jepang dan China masih terus bersaing untuk mendapatkan Indonesia. Bahkan kedua negara ini rela “banting harga”.

Seperti dimuat laman detikFinance (Jepang dan China ‘Banting Harga’ Proyek Kereta Cepat, Ini Tanggapan Jokowi) dan laman Kontan (China-Jepang berebut proyek kereta cepat)

Boston Consultant Group, ditunjuk oleh pemerintah sebagai konsultan untuk memilih opsi terbaik dari antara proposal China dan Jepang. Hal ini juga menunjukkan netralitas Indonesia dari pengaruh kedua negara itu.

Pernah diliput oleh Bisnis.com (Kereta Super Cepat Jakarta-Bandung: Pemerintah Tunjuk Boston Consulting Group Sebagai Konsultan)

Tapi Jokowi menolak kedua proposal itu. Beliau meminta Jepang dan China menyusun kembali proposal anyar tentang kereta berkecepatan menengah yang sangat dibutuhkan Indonesia untuk rute Jakarta-Bandung. Pernah dimuat dalam laman liputan6 (Jokowi Tolak Kereta Cepat, China dan Jepang Buat Proposal Baru)

Jepang kecewa dengan keputusan itu, hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki saat mengunjungi kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Baca di CNN Indonesia (Jepang Kecewa Proposal Kereta Cepat Ditolak Jokowi)

Jokowi mengeluarkan Perpres No 93 tahun 2015 tentang kereta api cepat yang membahas mengenai batas penilaian sampai 7 September 2015, Pemerintah Indonesia juga menetapkan syarat mutlak untuk proyek ini, tidak boleh menggunakan dana APBN. Pemerintah juga tidak mau mengeluarkan garansi terkait pendanaan proyek.

Kemudian Jokowi menunjuk menteri BUMN, Rini Soemarmo. Satu bulan kemudian, terbentuk konsorsium kereta cepat BUMN yang mengandeng pihak Cina. Kereta cepat Jakarta-Bandung dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pernah dimuat dalam laman detikFinance (Rini Jelaskan Alasan RI Gandeng China Garap Kereta Cepat)

China lebih banyak memenuhi syarat utama dibanding Jepang, yaitu pembiayaan tanpa jaminan, dilaksanakan melalui mekanisme business to bussiness, dan tidak menggunakan dana APBN. Baca di Republika (Ini Alasan Pemerintah Tunjuk Cina Bangun KA Cepat).

sk-001/legaleraindonesia.com

Leave a Reply