Header Image

(2) Kisah Romantis Aminah Qutb dan Kamal As-Sananiri ;Perpisahan Selamanya di Dunia

(2) Kisah Romantis Aminah Qutb dan Kamal As-Sananiri ;Perpisahan Selamanya di Dunia

Kisah Romantis Aminah Qutb dan Kamal As-Sananiri

Perpisahan Selamanya di Dunia

Setelah berkiprah di jihad Afghan, Kamal pulang ke Mesir. Ia pun sangat merindukan istrinya yang tercinta, Aminah Qutb. Namun, sekembalinya dari Afgan, ia kembali ditangkap oleh rezim Anwar Sadat pada akhir September 1981. Kamal diinterogasi soal peranannya di jihad Afghanistan dan orang-orang yang bersamanya. Suami Aminah Qutb yang telah kenyang dengan siksaan penjara ini menolak menjawab dan dihadiahi siksaan yang begitu kejam.

Namun, fisik Kamal tidaklah seperti dulu saat ia masih dalam penantian 19 tahun di penjara. Badannya lemah karena telah menua. Siksaan yang berat itu membuat Kamal menemui kesyahidannya pada 8 November 1981. Seolah lepas tangan, pihak rezim mengatakan Kamal tewas karena bunuh diri. Mana mungkin seorang mujahid yang telah dipenjara 19 tahun dan disiksa dengan kejam melakukan bunuh diri? Masyarakat saat itu pun tahu bahwa itu hanyalah pembelaan diri rezim agar lepas dari tanggung jawab.

Hancurlah hati Aminah Qutb. Suaminya yang ia tunggu hingga 19 tahun lamanya kembali meninggalkannya selama-lamanya di dunia. Kesedihannya yang begitu mendalam ia tuangkan dalam sebuah syair yang begitu syahdu dan dikenal banyak orang saat ini.

هل ترانا نلتقي ام انها … كانت اللقيا على أرض السرابِ

Apakah kamu membayangkan bahwa kita akan bertemu semula atau ia hanyalah pertemuan di bumi khayalan semata-mata.

ثم ولت و تلاشى ظلها … و استحالت ذكريات للعذاب

Kemudian ia hilang serta lenyap bayangannya… Ia menukar segala memori menjadi derita

هكذا يسأل قلبي كلما … طالت الايام من بعد غيابِ

Begitulah hatiku sering bertanya rindu…Seakan hari-hari terasa panjang berapa lama tidak bertemu

فإذا طيفك يرنو بلسمـًا… و كأني في استماع للجوابِ

BACA JUGA  INDEF: Bunga Kredit Pendidikan Bebani Mahasiswa Setelah Lulus
 

Apabila ingatan padamu menyapaku lalu tersenyum malu…Seolah mendengar bisikan rinduku

أولم نمضي على الحقِ معـًا … كي يعود الخير للأرض اليبابِ

Adakah kita akan bersama-sama merentasi kesusahan ini?…supaya kebaikan kembali subur di bumi yang telah hancur

فمضينا في طريق شائك … نتخلى فيه عن كل الرغابِ

Kita telah menempuh jalan yang penuh onak duri…Kita korbankan segala impian..

و دفنا الشوق في اعماقنا … و مضينا في رضاء و احتسابِ

Kita tanamkan kerinduan jauh dalam lubuk sanubari…dan kita melaluinya dengan ridha serta kepasrahan hati

قد تعاهدنا على السيرِ معـًـا … ثم اعجلتَ مجيبـًا للذهابِ

Kita pun telah berjanji untuk melangkah bersama…Kemudian engkau tangguhkan karena mendapat panggilan untuk pergi selamanya

حين ناداني رب منعم … لحياة في جنان ورحاب

Ketika Rabb Maha Pemberi Nikmat menyeruku…Untuk meneruskan hidup di Jannah yang tidak terbayangkan oleh mata

و لقاء في نعيم دائم … بجنود الله مرحب الصحاب

Pertemuan yang luhur dalam kenikmatan yang abadi…Bersama para tentara Allah mereka bahagia sebagai teman setia

قدموا الأرواح و العمر فدا … مستجيبين على غير ارتياب

Mereka telah menyerahkan kehidupan sebagai tebusan…Mereka sukarela berkorban dan tanpa keraguan

فليعد قلبك من غفلاته … فلقاء الخلد في تلك الرحاب

Maka sadarkanlah hatimu dari kelalaian…Karena yang kekal hanyalah pertemuan di Jannah penuh kenikmatan

أيها الراحل عُذرًا في شِكاتي … فإلى طيفِك أنات عتابِ

Wahai mereka yang telah dahulu pergi, maafkan aku atas keguasaran ini…Karena hati ini selalu gelisah akan kenangan yang telah dilalui

قد تركت القلب يـدمي مثقلاا … تائها في الليل في عمق الضباب

Engkau telah tinggalkan hatiku yang terus berdarah…Hilang ketika malam yang tenggelam di dalam kabut

و اذا اطوي وحيدا حائرا … اقطع الدرب طويلاً في اكتئابِ

 
 

Petangku telah berubah menjadi kesunyian penuh kegalauan…Terpaksa jua kuarungi jalan panjang ini dengan hidup dalam kesedihan

و اذا الليل خضم موحش … تتلاقى فيه امواج العذاب

Malamku menjadi suram umpama lautan kelam…Menghadapinya seolah menempuh ombak yang kuat di pantai

لم يعد يبَرق في ليلي سَنااهُ … قد توارت كل انوار الشهاب

Tiada lagi cahaya yang menerangi malam-malamku…Begitu juga cahaya bintang yang telah hilang sinarnya

غير اني سوف امضي مثلما … كنت تلقاني في وجه الصعاب

Walaupun demikian, aku akan tetap meneruskan perjuangan…Meski kau lihat aku penuh kesengsaraan

سوف يمضي الرأس مرفوعا فلاا … يرتضى ضعفـًا بقولِ او جوابِ

Jiwaku berjanji akan tetap teguh dan tidak akan pernah membiarkan diri lemah dengan hadangan

سوف تحدوني دمااء عابقات … قد انارت كل فج للذهاب

Darah-darah ini akan menjadi motivasi…Darah yang menerangi jalan-jalan kejayaan

Jika ingin mendengarkan lantunan syair ini silakan lihat di sini

Dari setiap lirik syair, kita bisa merasakan betapa dalamnya perasaan Aminah kepada sang suami. Sebuah perasaan cinta yang abadi karena Allah semata. Meskipun rasa sakit ditinggal sang kekasih di dunia, ia tetap tegar karena keyakinannya akan bertemu kembali dengan sang pujaan hati di Jannah-Nya yang abadi.

Aminah tetap memegang teguh cintanya pada Kamal hingga akhir hayatnya. Ia berharap akan bersama kembali dengan kekasihnya di akhirat nanti. Cinta yang suci karena Allah akan membawa para pecinta menuju kenikmatan selamanya. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber

  1. Kitab “Sayyid Qutb Minal Milad Ila Isytisyhad” karya syaikh Shalih Abdul Fattah Al-Khalidi

  2. www.islam21c.com

  3. www.ikhwanwiki.com

  4. ar.islamway.net

Leave a Reply

shares