SUARA KALTIM-Online
SUARA KALTIM-Online SUARA KALTIM-Online

Guru Ngaji Pergi Haji (cerpen)

Saturday, 24 August 2019 | 10:06 am | 60 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       

 

 

Selepas mengantar guru ngajinya berangkat ke Makkah, kesehatan Bu Susi membaik

***

Beberapa tahun silam… Dalam salah satu ceramahnya, di depan jamaah ibu-ibu pengajian masjid al-Barkah tempat ustazah mengajar ngaji, Ustazah Lilis menjelaskan, Sesungguhnya setan tidak akan per nah berhenti menggoda manusia, sebelum tujuan-tujuan yang diinginkan setan terpenuhi. Setan akan terus berusaha menjerumuskan manusia, supaya kelak di akhirat sang setan ada temannya, di neraka!

Bu Susi, salah satu jamaah pengajian, yang memang sudah sejak lama tidak suka dengan Ustazah Lilis, menggerutu sendiri, “Yaelah bu Ustazah. Emang dia pernah lihat akhirat. Kayak pernah mati aja?”

Beberapa jamaah pengajian tersentak, lalu memandang sebentar Bu Susi. Kemudian Bu Susi terdiam dan kembali menyimpak ceramah si pendakwah.

“Jamaah pengajian yang dirahmati Allah… bagaimana setan menggoda manusia sampai dia mampu menjerumuskan ke lembah dosa, itu dilakukannya terus-menerus. Setan tidak pernah berhenti menggoda sampai keinginannya terpenuhi. Kita sebagai manusia, secara tidak sadar, terus dihajar, dicecar, digoda, dirayu-rayu, dengan cara kasar atau halus, dengan berbagai cara. Semakin iman seseorang tinggi, bisikan, dan rayuan setan semakin menjadi-jadi.”

Bu Susi kembali mencibir, tapi kali ini tidak menggerutu. Ibu-ibu yang lain terus menyimak.

“Sebagai contoh nih ya, Bu… Bu…Ibuuu…?!” Ustazah Lilis ceramah memanggil ibu-ibu jamaah pengajian. Mengingat ada satu dua ibu-ibu di sudut ruangan lagi ngerumpi berdua. Ustazah memanggil-manggil ibu-ibu agar mereka semua fokus dan menyimak ceramahnya. Ini mirip cara almarhum Zaenudin Mz, ustaz kondang yang sudah almarhum.

Ibu-ibu menyahut sambil tersenyum, dan merasa penasaran dengan ceramah Ustazah Lilis. Ibu-ibu yang tadi ngerumpi disudut kali ini konsentrasi ikut mendengarkan.

Ustazah Lilis melanjutkan ceramahnya, “Contohnya ya Bu. Misalkan kita berangkat haji ke Tanah Suci. Karena tidak ingin bermaksud riya, atau ingin dipuji oleh orang lain, kita lakukan secara sederhana dan tidak berlebihan. Pelepasan keberangkatan kita lakukan secara biasa-biasa saja. Setibanya di Tanah Suci, kita kagak update foto, gak pasang muka kita waktu di depan Ka’bah di medsos.”

“Maksudnya, apa ibu-ibu, kita menghindari diri dari sifat riya, sifat ingin dipuji-puji orang lain. Tapi, apa yang terjadi ibu-ibu sekalian. Setan tidak tinggal diam ibu-ibu sekalian! Setan nggak bosan-bosannya membisiki telinga kita, ayo cepat sebarkan berita kamu ke Makkah di medsos, biar semua orang tahu kalau kamu pernah ke Makkah! Pernah shalat di depan Ka’bah, kalau perlu selfie di depan Hajar Aswad! Begitu bujuk rayu setan. Namun, karena iman kita kuat, kita mampu menahan godaan dari sang setan. Kita teguh pada pendirian untuk nggak pamer atau riya kepada orang lain.”

Semua jamaah masih menyimak, tapi Bu Lilis sudah merasa malas-malasan mendengarkan ceramah Ustazah Lilis, dan dia hanya membatin, “Idiiih, Ustazah Lilis tahu aja kalau saya nanti mau selfie pas di depan Ka’bah!”

“Ibu-ibu jamaah pengajian yang dimuliakan Allah. Di saat kita mampu menahan godaan dan rayuannya, kita pulang ke Tanah Air, dan setibanya di rumah, sampai berhari-hari lamanya, berminggu bahkan berbulan dan berganti tahun, kita tidak pernah menceritakan kepada orang lain bahwa kita telah melaksanakan perintah Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah.”

“Namun, ibu-ibu sekalian, dari tahun ke tahun, ketika kita mampu untuk tidak menceritakan atau memamerkan keberangkatan kita ke Tanah Suci, tetapi… di tahun ke sepuluh, rupanya setan masih juga tidak ada henti-hentinya menggoda dan merayu, sampai akhirnya… kita pun tidak kuattttt, pertahanan kita untuk menyimpan rahasia ibadah haji kita ambrol oleh godaan sang setan!”

“Akhirnya…kita bercerita, memamerkan diri di depan orang lain, tentang ke berangkatan kita ke Baitullah!!! Supaya apa? Supaya orang yang belum tahu itu jadi tahu kalau kita seorang haji!!! Maka, ibu-ibu sekalian, runtuhlah apa yang sudah kita pertahankan selama itu, untuk bisa terhindar dari sifat riya! Rontok sudah keimanan kita, tersebab bujuk rayu sang setan durjana!”

Jamaah mengangguk-angguk, kecuali tentu saja Bu Susi. Menurut Bu Susi, yang sebentar lagi bakalan pergi haji, Ustazah Lilis tak pantas berceramah soal haji di depan jamaah ibu-ibu pengajian.

Kayak pernah naik haji aja! Lagian, Ustazah Lilis nggak bakalan mampu pergi haji!” begitu gerutu Bu Susi pada jamaah pengajian lain, sampai ada ibu-ibu lain melotot karena khawatir ocehan Bu Susi terdengar Ustazah.

Pada pengajian berikutnya, ketika Ustazah Lilis kembali menyampaikan tentang cara-cara berhaji, Bu Susi pun mendekati Ustazah Lilis saat pengajian usai, “Ustazah…lebih baik Ustazah jangan cerita soal-soal haji di pengajian kita. Kalau saya… baru deh pantas karena sebentar lagi saya naik haji! Lagi pula pergi haji itu masih mimpi buat mereka. Ibu-ibu di sini belum tentu sanggup bayar ongkosnya. Lha, ustazah sendiri juga belum pernah naik haji, kan?”

Saat ustazah Lilis hendak menjawab, Bu Susi sudah lebih dulu pergi. Ustazah hanya bisa menghela napas panjang dan berusaha menyabarkan dirinya.

Sepulang mengaji, Bu Susi ternyata memengaruhi para tetangga, khususnya ibu-ibu yang suka mengaji pada ustazah Lilis. Bu Susi mengatakan, kalau Ustazah Lilis belum pantas menerangkan soal haji.

Seperti biasa, sambil ngerumpi Bu Susi menawarkan seragam mengaji buat ibu-ibu.

(Ibu-ibu pengajian suka sekali ganti-ganti utangan seragam mengaji berupa baju dan kerudung yang dianggap lagi model/ trend pada Bu Susi. Terutama seragam pengajian yang suka beredar di Instagram atau FB milik Bu Susi).

Soal utangan seragam mengaji ini, Ustazah Lilis sempat menegur Bu Susi, agar tidak berjualan di dalam masjid karena tak boleh jualan di lingkungan ibadah. Boleh berjualan, tapi saat di luar lingkungan masjid. Ini membuat Bu Susi jadi merasa repot.

Soalnya kalau ibu-ibu jamaah pengajian sudah bubar dari masjid, sulit ditahan untuk tidak buru-buru pulang ke rumah mereka. Hal itulah yang membuat Bu Susi jadi semakin tidak menyukai Ustazah Lilis.

Sejak saat itu Bu Susi berusaha bagaimana caranya agar Ustazah Lilis tidak disukai jamaah pengajian. Sebulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, saat Bu Susi kembali mengadakan pengajian untuk mendoakan kepergiannya, Bu Susi sengaja mengundang Ustazah Lilis sebagai penceramah. Tujuannya supaya Ustazah juga tahu kalau dirinya akan berangkat naik haji.

Namun, pada saat Ustazah Lilis ceramah, Bu Susi mengambil alih dan menggantikannya berceramah. Karena, menurutnya, dirinya juga bisa menerangkan soal ibadah haji.

Ustazah Lilis memberikannya kesempatan, meskipun sebenarnya ada waktu lain untuk sambutan sahibul hajat. Para jamaah pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan mendengarkan ungkapan Bu Susi soal pengalaman bagaimana dia bisa punya uang untuk ongkos ke Makkah.

Selepas pengajian itu, beberapa hari kemudian Bu Susi jatuh sakit. Bu Susi mencoba menguatkan diri bahwa dia sehat-sehat saja, tetapi semua orang tak bisa dibohongi. Bu Susi jadi takut dan khawatir tak jadi berangkat haji.

Saat periksa kesehatan, Bu Susi hendak berbohong, merahasiakan kesehatannya pada dokter. Pak Galih menasihati Bu Susi, “Bu, kita ini mau berangkat haji, mau ibadah. Kenapa harus bohong..?”

“Tapi, Pak…”

“Ingat Bu. Ibadah haji itu ibadah fisik. Jangan main-main. Nanti malah menyusahkan.”

Dua pekan sebelum keberangkatan, sakit Bu Susi makin parah. Dokter bingung dengan penyakit Bu Susi. Keluarga Bu Susi nyaris putus asa. Menurut hasil lab, Bu Susi dikatakan sehat-sehat saja. Tapi, hampir setiap malam Bu Susi merasakan sesak napas.

Sementara itu, Ustazah Lilis diliputi rasa sedih. Hal yang manusiawi meskipun dia seorang Ustazah yang kerap membimbing jamaahnya, memiliki keinginan untuk menyempurnakan rukun islam kelima, ibadah haji ke ranah suci Makkah. Ustazah ingin sekali berangkat haji, tetapi ia menyadari kalau dirinya tak akan mampu membiayai ongkos haji. Suaminya hanya seorang guru honorer bergaji pas-pasan.

Mendengar curhat Ustazah Lilis, suaminya menguatkan agar Ustazah Lilis tetap istiqamah. “Ingat Bu, ibu sendiri yang bilang, kalau Allah berkehendak, tak ada hal yang mustahil,” ujar suami Ustazah.

Ustazah Lilis pun istighfar dan memohon ampun pada Allah. Ustazah Lilis akhirnya berdoa semoga dirinya memiliki kesempatan untuk bisa datang memenuhi panggilan haji ke Tanah Suci Makkah.

Setelah puluhan dokter angkat tangan, dan penyakit tak juga sembuh, akhirnya Bu Susi dibawa ke pesantren atas usul salah satu anaknya yang mondok di sana. Anaknya bilang, salah satu kiai di pondok sesekali didatangi orang untuk berobat. Bukan obat secara medis, melainkan biasanya mendapat semacam obat rohani.

Sang kiai di pesantren tempat anak Bu Susi mondok mengatakan, penyakit Bu Susi ini mudah sekali diobati. Tetapi, bukan Pak Kiai yang bisa mengobatinya. Ada seorang ustazah yang dapat menyembuhkannya! “Siapa ustazah itu Pak Kiai..?” tanya Pak Galih dan Bu Susi.

Pak Kiai menjawab, “Kalian pasti tahu siapa Ustazah yang saya maksud…”

“Jangan-jangan Ustazah Lilis, Bu?” Pak Galih menduga-duga.

“Ustazah Lilis kan bukan dokter atau tabib..?” selidik Bu Susi, ketus.

Sesaat Pak Kiai terdiam. Lalu, Pak Kiai bilang, “Saya juga tidak tahu bu. Mungkin ibu sendiri yang tahu, kenapa harus Ustazah itu yang bisa menyembuhkan ibu…”

Bu Susi pun tersadar, kalau selama ini ia memiliki kesalahan pada sang Ustazah. Pak Galih meminta Bu Susi agar meminta maaf pada ustazah Lilis. Lalu, bagaimana Pak Kiai tahu tentang Ustazah Lilis? Karena, Pak Kiai sudah banyak mendengar cerita soal ini dari anaknya Bu Susi dan Pak Galih.

Namun begitu, Bu Susi masih tak percaya kalau Ustazah Lilis bisa menyembuhkannya. Bu Susi bahkan bernazar, kalau Ustazah Lilis bisa membuatnya sehat, ia akan memberikan jatah hajinya buat Ustazah Lilis!

Di satu kesempatan, akhirnya Ustazah Lilis diminta datang ke rumah Bu Susi. Saat itu juga, Bu Susi semakin parah penyakitnya. Atas desakan Pak Galih, Bu Susi pun meminta maaf pada Ustazah Lilis.

Ustazah Lilis dengan tulus memaafkan Bu Susi. Bahkan, Ustazah Lilis bilang, selama ini dia tidak pernah merasa sakit hati atau tersinggung dengan apa yang dilakukan Bu Susi terhadapnya.

Selang beberapa hari, Bu Susi mengalami keanehan. Bu Susi yang sering merasakan sesak napas, ternyata sesak napas yang sering dia rasakan itu berangsur menghilang.

Bu Susi kembali sehat. Pak Galih pun mengingatkan Bu Susi tentang nazarnya.

Tapi, Bu Susi berubah pikiran. Setelah sehat, dia merasa mampu untuk pergi ke Tanah Suci. Sehari setelah itu, sesak napas Bu Susi kambuh. Bahkan, Bu Susi merasakan dirinya seperti mau mati! Pada tahun itu, Bu Susi dan suaminya gagal berangkat haji dengan alasan sakit! Suaminya pun ikhlas membatalkan keberangkatannya sebab dia tidak ingin berhaji sendirian.

Tahun berikutnya, di tengah sakitnya yang semakin parah, akhirnya Bu Susi bersedia memenuhi nazarnya. Bu Susi meminta suaminya memanggil Ustazah Lilis ke rumah, meminta ustazah didaftarkan sebagai calon jamaah haji. Bu Susi akan mengurus segala surat-surat dan keperluannya. Dengan begitu, Ustazah Lilis akan berangkat ke Tanah Suci.

Ustazah Lilis awalnya tidak percaya begitu saja. Namun, suami Bu Susi memaksa demi nazar istrinya. Semua persyaratan akan diurus, nanti Ustazah Lilis tinggal berangkat. Suami Bu Susi pun mengikhlaskan dirinya tidak berangkat karena dia menunggu kesembuhan Bu Susi.

Setelah diyakinkan, Ustazah percaya dan terharu. Pada waktu yang sudah ditentukan, Ustazah Lilis benar-benar berangkat haji. Para ibu-ibu pengajian senang sekali melepas keberangkatan Ustazah Lilis ke Tanah Suci Makkah. Bu Susi pun ikut mengantarnya meskipun dalam kondisi yang kurang sehat.

Di depan gerbang asrama haji, Bu Susi berpesan pada Ustazah Lilis, “Bu Ustazah… nanti doakan semoga saya selalu diberikan kesehatan, dipanjangkan umur, biar bisa berangkat ke Tanah Suci pada musim haji berikutnya…”

Ustazah mengangguk. Lalu, Bu Susi dan Ustazah Lilis saling berpelukan. Selepas mengantar guru ngajinya yang akan berangkat ke Makkah, perlahan-lahan kesehatan Bu Susi kembali pulih!

— Pamulang, Tangerang Selatan 2019

TENTANG PENULIS: ZAENAL RADAR T. Menulis naskah untuk media cetak dan televisi. Salah satu skenario yang ditulisnya, Serial Mak Ijah Pengen Ke Mekkah (SCTV). Cerpen-cerpennya termuat di sejumlah media. Bukunya yang terbaru; Si Markum (Penerbit Alvabet, 2017). Blog: http://toekangketik.blogspot.com

Leave a Reply