SUARA KALTIM
SUARA KALTIM SUARA KALTIM

KINI WAKIL BUPATI MOROWALI UTARA YANG NGAMUK, SELANJUTNYA KEPALA DAERAH MANA?

Sunday, 11 February 2018 | 2:04 pm | 159 Views |
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
                                                                       

MOROWALI UTARA, SUARAKALTIM.com. Hanya berselang lebih sepekan, kepala daerah yang mengamuk di depan orang banyak kembali terjadi.  Seminggu lebih yang lalu, Wakil Bupati Tolitoli, Sulawesi Tengah, Abdul Saleh (Rabu ,31/1/2018), kini Wakil Bupati Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Mohamad Asrar Abdul Samad. Asrar mengamuk saat acara pelantikan camat yang digelar di Aula Kantor Bupati Morowali Utara, Kolonodale, Kamis (9/2/2018).

Banyak yang merekam aksi Asrar saat pelantikan itu dan mengunggah videonya ke media sosial. Bisa dilihat rekaman “sinetronnya” di youtube.  Mungkin judul “ Wakil Bupati Mengamuk” saat ini sedang ngetrent di Sulawesi Tengah. Pengen jadi artis youtube, lalu masuk berita tv nasional dan dikenal di mana-mana.

Action nya (seperti di video) ;

Asrar yang mengenakan baju putih  untuk melampiaskan amarahnya di depan 49 pejabat eselon III dan 84 pejabat eselon IV serta para undangan di Aula Kantor Bupati Morowali Utara, Kolonodale, Sulawesi Tengah. Kursi dan meja yang berada di bawah panggung menjadi korban amarah.

Asrar merampas naskah surat keputusan pelantikan dan berteriak minta acara pelantikan dihentikan sebelum dia diamankan oleh polisi dan anggota TNI yang bertugas di lokasi acara.

Asrar sempat ditenangkan di ruangan lain. Tapi sepertinya amarahnya belum reda. Dia keluar  dari pintu lain di kawasan kantor bupati, Asrar sempat berkomentar singkat yang berisi tudingan kepada Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor.

Di luar ruangan, tepatnya di carport dia lalu menendang mobil Toyota Fortuner bernomor plat DN 1 D yang dikendarai  Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor  yang diparkir di depan kantor bupati hingga alarm mobil menyala dan bagian tengah badan mobil di sisi kiri penyok.

Rudi, seorang jurnalis yang meliput kegiatan itu seperti yang dicuplik dari tempo.com menyebutkan bahwa awalnya, Wabup dan Bupati duduk berdampingan di meja pimpinan, tapi tampak mereka tidak pernah saling sapa atau berbicara hingga Wabup turun dari panggung dan mengamuk.

Ia kemudian bergegas menuju petugas protokoler yang sedang membacakan SK tersebut lalu merampas naskah SK dan merobek-robeknya di depan hadirin, sambil berteriak-teriak, “Hentikan pelantikan ini. Jangan dilantik, jangan dilantik.”

Setelah merobek-robek SK, ujar Rudi, para petugas keamanan dari kepolisian, TNI, dan Satpol Pamong Praja mengamankan Asrar dan menggiringnya ke ruang kerjanya.

Lalu di dalam ruang kerjanya di lantai dua kantor bupati, ujar Rudi, Asrar melemparkan foto Bupati lewat jendela dan jatuh di jalan aspal depan kantor bupati dan pecah.

Belum puas melampiaskan emosinya, Asrar, yang menurut kalangan ASN di kantor Bupati Morut sudah lama tidak kelihatan masuk kantor itu, pergi lagi ke depan ruang pelantikan pejabat dan berteriak-teriak kembali, “Segera hentikan pelantikan.” Asrar kemudian diamankan petugas dan dibawa kembali ke rumah jabatan wakil bupati. Saat melintas di teras utama depan kantor bupati, Asrar menendang mobil dinas bupati jenis Toyota Fortuner sehingga pintu tengahnya penyok.

Menurut Rudi, hingga pukul 17.00 Wita, Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor dan para pejabat yang dilantik masih berada di ruang pelantikan.

Meski Wakil Bupati mengamuk, pelantikan tersebut tetap dilanjutkan hingga selesai.

Wabup Asrar Abdul Samad membenarkan semua tindakan yang dilakukannya saat pelantikan tersebut dan menyatakan siap mempertanggungjawabkannya sampai ke mana pun, khususnya kepada Gubernur Sulawesi Tengah dan Menteri Dalam Negeri.

Ia menilai bahwa pelantikan tersebut cacat hukum karena tidak melalui prosedur yang benar seperti pembahasan di Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) dan dia sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam masalah ini.

Yang lebih seru dan lebih penting, mungkin aparat bisa mengusut, soal fee 15 persen yang diterima bupati, apakah benar Asrar berteriak seperti itu. Dan apa maksudnya? Bisa jadi ada “pembagian yang tidak adil”?

“Pokoknya bupati ini tidak ada bupati. Cuma bikin rusak Morowali Utara. Tidak ada bupati lain buat fee 15 persen, cuma dia,” teriak Asrar, seperti yang tayang di video-video amatir yang beredar di media sosial.

Nah lo jadi terbongkar rahasia, mas bro.

 (YouTube/suarakaltim.com)

Leave a Reply